Muslim99Muslim99
← Tafsir library

6. Al-An'aam

The Cattle · Meccan · 165 ayahs

سُورَةُ الأَنۡعَامِ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 111–120 of 165

111

۞ وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَآ إِلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ ٱلْمَوْتَىٰ وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَىْءٍۢ قُبُلًۭا مَّا كَانُوا۟ لِيُؤْمِنُوٓا۟ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

"Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan segala kesung-guhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepadaNya. Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.' Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 109-110). "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya me-reka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am: 111).

(109) Orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul Muhammad bersumpah ﴾ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴿ "dengan Nama Allah dengan segala kesungguhan." Maksudnya, sumpah yang mereka tegaskan dan mereka tekankan, ﴾ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ ﴿ "sungguh jika datang kepada me-reka sesuatu mukjizat," yang menunjukkan kebenaran Muhammad, ﴾ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ ﴿ "pastilah mereka beriman kepadaNya." Ucapan yang mereka katakan ini tidak bertujuan baik, akan tetapi tujuannya hanyalah menyangkal bantahan yang ditujukan kepada mereka dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dengan pasti, Allah telah mendukung RasulNya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil yang kuat di mana jika ia dilihat, maka tidak tersisa sedikit pun syubhat dan persoalan tentang kebenaran sesuatu yang dibawanya. Permintaan mereka terhadap mukjizat setelah itu hanyalah permintaan yang menyusahkan yang tidak perlu dipenuhi. Bahkan terkadang pelarangan untuk menjawab pertanyaan mereka adalah lebih banyak kemaslahatannya bagimu karena sunnatullah yang berlaku pada manusia adalah bahwa orang-orang yang menuntut turunnya mukjizat kepada Rasul-rasul mereka, apabila ia diturun-kan lalu mereka tidak beriman kepadanya, maka Allah menyege-rakan azab kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah'." Maksudnya, Allah-lah yang menurunkannya jika Dia berkehendak, dan menahannya jika Dia berkehendak. Urusannya sedikit pun bukanlah di tanganku, tuntutanmu kepa-daku terhadap mukjizat bukanlah pada tempatnya. Tuntutan ter-hadap apa yang tidak aku miliki. Seharusnya tuntutan tersebut ditujukan untuk meminta penjelasan ayat yang aku sampaikan kepadamu dan tuntutan penjelasan tentang pembenarannya. Itu telah terjadi. Walaupun begitu tidak bisa dipastikan bahwa sean-dainya mukjizat itu turun, mereka akan beriman dan memperca- yainya. Justru pada umumnya orang yang keadaannya begini malah tidak beriman. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman?"

(110) ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ …

Al-An'aam 6:111Listen in Qur'an →
112

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّۭا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍۢ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًۭا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu mu-suh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada ke-hidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan sesuatu yang mereka (setan) kerjakan." (Al-An'am: 112-113).

(112) Allah menghibur RasulNya Muhammad dengan me-ngatakan, "Kami menjadikan untukmu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangi dan memusuhimu serta hasud kepadamu," karena ini adalah sunnah Kami di mana setiap Nabi yang Kami utus kepada manusia pasti memiliki musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia yang melawan ajaran yang dibawa oleh para Rasul. ﴾ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ ﴿ "Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." Maksudnya, sebagian mereka menghiasi kebatilan yang mereka serukan dengan kebaikan kepada sebagian yang lain, dan memperindah kata-kata sehingga mereka menyulapnya dalam ben-tuk yang paling baik untuk mengelabui orang-orang bodoh dan menipu orang-orang pandir yang tidak memahami hakikat yang sebenarnya dan tidak mengerti makna yang sesungguhnya. Mereka terkagum-kagum oleh kata-kata indah dan ungkapan yang mem-pesona, lalu mereka meyakini kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.

(113) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ ﴿ "Agar cenderung kepada bisikan itu," maksudnya, condong kepada ucapan yang indah tersebut ﴾ أَفۡـِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat." Karena ketidakimanan mereka kepada Hari Akhir dan ketiadaan akal mereka yang berguna yang telah membawa mereka kepada hal tersebut. ﴾ وَلِيَرۡضَوۡهُ ﴿ "Agar mereka merasa senang kepadanya," setelah mereka cenderung kepadanya. Mereka cenderung kepadanya lebih dahulu, lalu apabila mereka condong kepadanya dan melihat kata-kata indah itu, maka mereka rela menerimanya, dan ia dihiasi dengan kesesatan di dalam hati mereka lalu menjadi keyakinan yang ter-patri dan sifat yang tidak terpisahkan, kemudian akibat dari itu adalah munculnya perbuatan-perbuatan dan perkataan yang telah diperbuat oleh setan yakni mereka mendatangkan ucapan dan perbuatan dusta yang merupakan konsekuensi dari keyakinan-keyakinan buruk itu. Inilah keadaan orang-orang yang berdusta, setan-setan manusia dan jin yang menjawab ajakan mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepada Hari Akhir, para pemilik akal yang sempurna, dan pemikiran yang terukur, maka mereka tidak tertipu oleh kata-kata tersebut, mereka tidak terjerat oleh jebakan-jebakan tersebut, justru semangat mereka diarahkan untuk menge-tahui hakikat-hakikat (keimanan kepada Hari Akhir), mereka mene-laah makna-makna yang dilontarkan oleh para penyeru, jika benar maka mereka menerimanya dan tunduk kepadanya meskipun ia dibungkus dengan …

Al-An'aam 6:112Listen in Qur'an →
113

وَلِتَصْغَىٰٓ إِلَيْهِ أَفْـِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْءَاخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا۟ مَا هُم مُّقْتَرِفُونَ

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan.

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu mu-suh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada ke-hidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan sesuatu yang mereka (setan) kerjakan." (Al-An'am: 112-113).

(112) Allah menghibur RasulNya Muhammad dengan me-ngatakan, "Kami menjadikan untukmu musuh-musuh yang menolak dakwahmu, memerangi dan memusuhimu serta hasud kepadamu," karena ini adalah sunnah Kami di mana setiap Nabi yang Kami utus kepada manusia pasti memiliki musuh-musuh dari kalangan jin dan manusia yang melawan ajaran yang dibawa oleh para Rasul. ﴾ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ ﴿ "Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." Maksudnya, sebagian mereka menghiasi kebatilan yang mereka serukan dengan kebaikan kepada sebagian yang lain, dan memperindah kata-kata sehingga mereka menyulapnya dalam ben-tuk yang paling baik untuk mengelabui orang-orang bodoh dan menipu orang-orang pandir yang tidak memahami hakikat yang sebenarnya dan tidak mengerti makna yang sesungguhnya. Mereka terkagum-kagum oleh kata-kata indah dan ungkapan yang mem-pesona, lalu mereka meyakini kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.

(113) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ ﴿ "Agar cenderung kepada bisikan itu," maksudnya, condong kepada ucapan yang indah tersebut ﴾ أَفۡـِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat." Karena ketidakimanan mereka kepada Hari Akhir dan ketiadaan akal mereka yang berguna yang telah membawa mereka kepada hal tersebut. ﴾ وَلِيَرۡضَوۡهُ ﴿ "Agar mereka merasa senang kepadanya," setelah mereka cenderung kepadanya. Mereka cenderung kepadanya lebih dahulu, lalu apabila mereka condong kepadanya dan melihat kata-kata indah itu, maka mereka rela menerimanya, dan ia dihiasi dengan kesesatan di dalam hati mereka lalu menjadi keyakinan yang ter-patri dan sifat yang tidak terpisahkan, kemudian akibat dari itu adalah munculnya perbuatan-perbuatan dan perkataan yang telah diperbuat oleh setan yakni mereka mendatangkan ucapan dan perbuatan dusta yang merupakan konsekuensi dari keyakinan-keyakinan buruk itu. Inilah keadaan orang-orang yang berdusta, setan-setan manusia dan jin yang menjawab ajakan mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepada Hari Akhir, para pemilik akal yang sempurna, dan pemikiran yang terukur, maka mereka tidak tertipu oleh kata-kata tersebut, mereka tidak terjerat oleh jebakan-jebakan tersebut, justru semangat mereka diarahkan untuk menge-tahui hakikat-hakikat (keimanan kepada Hari Akhir), mereka mene-laah makna-makna yang dilontarkan oleh para penyeru, jika benar maka mereka menerimanya dan tunduk kepadanya meskipun ia dibungkus dengan …

Al-An'aam 6:113Listen in Qur'an →
114

أَفَغَيْرَ ٱللَّهِ أَبْتَغِى حَكَمًۭا وَهُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ إِلَيْكُمُ ٱلْكِتَٰبَ مُفَصَّلًۭا ۚ وَٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَٰهُمُ ٱلْكِتَٰبَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُۥ مُنَزَّلٌۭ مِّن رَّبِّكَ بِٱلْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

"Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, pada-hal Dia-lah yang telah menurunkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami berikan kitab ke-pada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 114-115).

(114) Katakan wahai Rasul, ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا ﴿ "Maka patut-kah aku mencari hakim selain dari Allah?" Aku berhukum dan berpe-gang kepada perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, karena selain Allah adalah obyek hukum bukan peletak hukum. Semua pengaturan dan hukum manusia pasti mengandung cacat, kekurangan, dan kezhaliman. Yang semestinya dijadikan sebagai hakim adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, yang memiliki hak mencipta dan memerintah. ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مُفَصَّلٗاۚ ﴿ "Padahal Dia-lah yang telah menu-runkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci?" Maksudnya, di dalamnya dijelaskan halal haram, hukum-hukum syar'i, pokok-pokok dan cabang-cabang agama yang tidak ada penjelasan di atas penjelasanNya, tidak ada bukti yang lebih jelas daripada buktiNya, tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada Dia, tidak ada yang lebih benar perkataannya daripada Dia, karena hukum-hukumNya mengandung hikmah dan rahmat, dan Ahli Kitab; orang-orang Yahudi dan Nasrani dahulu mengakui itu. ﴾ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُۥ مُنَزَّلٞ مِّن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya." Oleh karena itu, berita-berita tentangnya berkesesuaian, ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ﴿ "maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu."

(115) Kemudian Allah menjelaskan perinciannya, Dia ber-firman, ﴾ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ ﴿ "Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil." Maksudnya, "benar" dalam berita dan "adil" dalam perintah dan larangan. Tidak ada yang lebih benar daripada berita-berita Allah yang dimuat di dalam kitab yang mulia ini, tidak ada yang lebih adil daripada perintah-perintah dan laranganNya. ﴾ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ ﴿ "Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya." Karena Dia menjaganya dan melin-dunginya dengan bentuk kebenaran tertinggi dan dengan kebenaran paling mulia, maka tidak mungkin merubahnya dan tidak ada pen-dapat yang diusulkan yang lebih baik darinya. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan bahasa yang berbeda-beda dan kepentingan yang bermacam-macam. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," Dzat Yang ilmuNya me-liputi yang lahir, yang batin, yang lampau dan yang akan datang.

Al-An'aam 6:114Listen in Qur'an →
115

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًۭا وَعَدْلًۭا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.

"Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, pada-hal Dia-lah yang telah menurunkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami berikan kitab ke-pada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 114-115).

(114) Katakan wahai Rasul, ﴾ أَفَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡتَغِي حَكَمٗا ﴿ "Maka patut-kah aku mencari hakim selain dari Allah?" Aku berhukum dan berpe-gang kepada perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, karena selain Allah adalah obyek hukum bukan peletak hukum. Semua pengaturan dan hukum manusia pasti mengandung cacat, kekurangan, dan kezhaliman. Yang semestinya dijadikan sebagai hakim adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, yang memiliki hak mencipta dan memerintah. ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ مُفَصَّلٗاۚ ﴿ "Padahal Dia-lah yang telah menu-runkan kitab (al-Qur`an) kepadamu dengan terperinci?" Maksudnya, di dalamnya dijelaskan halal haram, hukum-hukum syar'i, pokok-pokok dan cabang-cabang agama yang tidak ada penjelasan di atas penjelasanNya, tidak ada bukti yang lebih jelas daripada buktiNya, tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada Dia, tidak ada yang lebih benar perkataannya daripada Dia, karena hukum-hukumNya mengandung hikmah dan rahmat, dan Ahli Kitab; orang-orang Yahudi dan Nasrani dahulu mengakui itu. ﴾ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُۥ مُنَزَّلٞ مِّن رَّبِّكَ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Mereka mengetahui bahwa al-Qur`an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya." Oleh karena itu, berita-berita tentangnya berkesesuaian, ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ﴿ "maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu-ragu."

(115) Kemudian Allah menjelaskan perinciannya, Dia ber-firman, ﴾ وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقٗا وَعَدۡلٗاۚ ﴿ "Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur`an), sebagai kalimat yang benar dan adil." Maksudnya, "benar" dalam berita dan "adil" dalam perintah dan larangan. Tidak ada yang lebih benar daripada berita-berita Allah yang dimuat di dalam kitab yang mulia ini, tidak ada yang lebih adil daripada perintah-perintah dan laranganNya. ﴾ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦۚ ﴿ "Tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalimatNya." Karena Dia menjaganya dan melin-dunginya dengan bentuk kebenaran tertinggi dan dengan kebenaran paling mulia, maka tidak mungkin merubahnya dan tidak ada pen-dapat yang diusulkan yang lebih baik darinya. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan bahasa yang berbeda-beda dan kepentingan yang bermacam-macam. ﴾ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Lagi Maha Mengetahui," Dzat Yang ilmuNya me-liputi yang lahir, yang batin, yang lampau dan yang akan datang.

Al-An'aam 6:115Listen in Qur'an →
116

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya, dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am: 116-117).

(116) Allah memperingatkan NabiNya agar tidak menu-ruti mayoritas manusia. Dia berfirman, ﴾ وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." Karena kebanyakan manusia telah menyimpang dalam agama, amal, dan ilmunya. Agama mereka rusak, amal mereka memper-turutkan hawa nafsu, ilmu mereka serabutan, tak bisa mengantar-kan kepada jalan yang lurus, hanya sebatas mengikuti praduga yang tidak berguna sedikit pun bagi kebenaran dan berspekulasi dalam memberikan pernyataan atas Nama Allah tanpa landasan ilmu.

(117) Orang yang seperti inilah yang layak Allah peringat-kan hamba-hambaNya darinya dan menjelaskan keadaannya ke-pada mereka. Karena ini, walaupun ia ditujukan kepada nabi, akan tetapi umatnya mengikutinya dalam hukum-hukum lainnya yang bukan kekhususannya. Perkataan dan pembicaraan Allah adalah yang paling benar dan ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦۖ ﴿ "Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya." Dan Dia lebih mengetahui tentang orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk, maka wajib atasmu wahai orang-orang Mukmin untuk mengikuti nasihat-nasihat, perintah-perintah, dan larangan-larangan-Nya, karena Dia lebih mengetahui kemaslahatanmu dan lebih me-nyayangimu daripada dirimu sendiri. Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak dibuktikan dengan banyaknya pendukung, dan minimnya pendukung dalam salah satu perkara tidak menunjukkan bahwa itu tidak di atas ke-benaran, tetapi yang realistis adalah kebalikan dari itu, para peng-ikut kebenaran lebih minim jumlahnya, akan tetapi kedudukan dan pahala mereka lebih besar di sisi Allah. Yang wajib adalah mencari dalil kebenaran dan kebatilan dengan jalan yang mengantarkan kepadanya.

Al-An'aam 6:116Listen in Qur'an →
117

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya, dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An'am: 116-117).

(116) Allah memperingatkan NabiNya agar tidak menu-ruti mayoritas manusia. Dia berfirman, ﴾ وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." Karena kebanyakan manusia telah menyimpang dalam agama, amal, dan ilmunya. Agama mereka rusak, amal mereka memper-turutkan hawa nafsu, ilmu mereka serabutan, tak bisa mengantar-kan kepada jalan yang lurus, hanya sebatas mengikuti praduga yang tidak berguna sedikit pun bagi kebenaran dan berspekulasi dalam memberikan pernyataan atas Nama Allah tanpa landasan ilmu.

(117) Orang yang seperti inilah yang layak Allah peringat-kan hamba-hambaNya darinya dan menjelaskan keadaannya ke-pada mereka. Karena ini, walaupun ia ditujukan kepada nabi, akan tetapi umatnya mengikutinya dalam hukum-hukum lainnya yang bukan kekhususannya. Perkataan dan pembicaraan Allah adalah yang paling benar dan ﴾ هُوَ أَعۡلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦۖ ﴿ "Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalanNya." Dan Dia lebih mengetahui tentang orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk, maka wajib atasmu wahai orang-orang Mukmin untuk mengikuti nasihat-nasihat, perintah-perintah, dan larangan-larangan-Nya, karena Dia lebih mengetahui kemaslahatanmu dan lebih me-nyayangimu daripada dirimu sendiri. Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak dibuktikan dengan banyaknya pendukung, dan minimnya pendukung dalam salah satu perkara tidak menunjukkan bahwa itu tidak di atas ke-benaran, tetapi yang realistis adalah kebalikan dari itu, para peng-ikut kebenaran lebih minim jumlahnya, akan tetapi kedudukan dan pahala mereka lebih besar di sisi Allah. Yang wajib adalah mencari dalil kebenaran dan kebatilan dengan jalan yang mengantarkan kepadanya.

Al-An'aam 6:117Listen in Qur'an →
118

فَكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُم بِـَٔايَٰتِهِۦ مُؤْمِنِينَ

Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.

"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelih-nya? Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu sesuatu yang diharamkanNya atasmu, kecuali sesuatu yang ter-paksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." (Al-An'am: 118-119).

(118-119) Allah memerintahkan orang-orang beriman de-ngan tuntutan iman, bahwa jika mereka adalah orang-orang yang beriman maka hendaknya mereka memakan binatang ternak dan binatang-binatang lain yang dihalalkan yang disembelih dengan menyebut Nama Allah dan meyakini kehalalannya. Janganlah me-reka melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah yaitu mengharamkan apa-apa yang dihalalkan dalam jumlah banyak dan itu mereka adakan dari diri mereka sendiri, dan penyesatan dari setan-setan mereka. Maka Allah menjelaskan bahwa tanda se-orang Mukmin adalah dia menyelisihi orang-orang jahiliyah pada kebiasaan yang tercela ini yang mengandung penyimpangan ter-hadap syariat Allah. Apa gerangan yang menghalangi mereka untuk memakan sesuatu yang telah disebut Nama Allah saat menyem-belihnya sementara Allah telah menjelaskan dan memaparkan se-cara terperinci apa-apa yang diharamkan atas mereka? Tidak ada lagi syubhat dan persoalan yang mengharuskan mereka menolak makan sebagian yang halal karena takut terjatuh pada yang haram. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa pada dasarnya segala sesuatu dan makanan itu adalah mubah, dan bahwa pada dasarnya segala sesuatu jika tidak ada dalil syariat yang mengha-ramkan sesuatu darinya, maka ia tetap berada di atas kehalalannya. Sesuatu yang tidak Allah bahas adalah halal, karena Dia telah me-rinci yang haram, maka sesuatu yang tidak Dia rinci berarti tidak haram, walaupun begitu dalam keadaan terpaksa dan kelaparan sesuatu yang haram yang telah dijelaskan oleh Allah secara rinci adalah dihalalkan, sebagaimana FirmanNya, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 3 ﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (da-ging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang di-sembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah …

Al-An'aam 6:118Listen in Qur'an →
119

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ ٱسْمُ ٱللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا ٱضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًۭا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَآئِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُعْتَدِينَ

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

"Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya. Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelih-nya? Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu sesuatu yang diharamkanNya atasmu, kecuali sesuatu yang ter-paksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." (Al-An'am: 118-119).

(118-119) Allah memerintahkan orang-orang beriman de-ngan tuntutan iman, bahwa jika mereka adalah orang-orang yang beriman maka hendaknya mereka memakan binatang ternak dan binatang-binatang lain yang dihalalkan yang disembelih dengan menyebut Nama Allah dan meyakini kehalalannya. Janganlah me-reka melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah yaitu mengharamkan apa-apa yang dihalalkan dalam jumlah banyak dan itu mereka adakan dari diri mereka sendiri, dan penyesatan dari setan-setan mereka. Maka Allah menjelaskan bahwa tanda se-orang Mukmin adalah dia menyelisihi orang-orang jahiliyah pada kebiasaan yang tercela ini yang mengandung penyimpangan ter-hadap syariat Allah. Apa gerangan yang menghalangi mereka untuk memakan sesuatu yang telah disebut Nama Allah saat menyem-belihnya sementara Allah telah menjelaskan dan memaparkan se-cara terperinci apa-apa yang diharamkan atas mereka? Tidak ada lagi syubhat dan persoalan yang mengharuskan mereka menolak makan sebagian yang halal karena takut terjatuh pada yang haram. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa pada dasarnya segala sesuatu dan makanan itu adalah mubah, dan bahwa pada dasarnya segala sesuatu jika tidak ada dalil syariat yang mengha-ramkan sesuatu darinya, maka ia tetap berada di atas kehalalannya. Sesuatu yang tidak Allah bahas adalah halal, karena Dia telah me-rinci yang haram, maka sesuatu yang tidak Dia rinci berarti tidak haram, walaupun begitu dalam keadaan terpaksa dan kelaparan sesuatu yang haram yang telah dijelaskan oleh Allah secara rinci adalah dihalalkan, sebagaimana FirmanNya, ﴾ حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ 3 ﴿ "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (da-ging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang di-sembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah …

Al-An'aam 6:119Listen in Qur'an →
120

وَذَرُوا۟ ظَٰهِرَ ٱلْإِثْمِ وَبَاطِنَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا۟ يَقْتَرِفُونَ

Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka telah kerjakan.

"Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembu-nyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi penjelasan (pada Hari Kiamat), disebabkan sesuatu yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 120).

(120) Yang dimaksud dengan dosa adalah seluruh kemak-siatan yang membuat pelakunya berdosa yakni terjerumus ke dalam dosa dan kesengsaraan dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya. Allah me-larang hamba-hambaNya melakukan dosa lahir dan batin yakni yang rahasia dan yang jelas yang berkaitan dengan tubuh dan ang-gotanya, dan yang berkaitan dengan hati. Dan seorang hamba tidak meninggalkan kemaksiatan lahir batin kecuali setelah dia menge-tahui dan mencarinya, maka mencari dan mengetahui kemaksiat-an hati dan badan adalah sesuatu yang wajib atas setiap mukallaf. Banyak orang tidak mengenal banyak kemaksiatan, lebih-lebih kemaksiatan hati seperti kikir, ujub, riya' dan sebagainya sehingga banyak orang tertimpa olehnya sementara dia tidak menyadari dan merasa, dan ini termasuk berpaling dari ilmu dan tidak adanya bashirah. Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang mela-kukan dosa lahir dan batin akan dibalas sesuai dengan hasil per-buatannya dan sesuai dengan kadar dosanya, sedikit atau banyak. Balasan ini akan hadir di Akhirat, dan bisa jadi seorang hamba dihukum di dunia, maka hal itu mengurangi keburukannya.

Al-An'aam 6:120Listen in Qur'an →

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.