Muslim99Muslim99
← Tafsir library

4. An-Nisaa

The Women · Medinan · 176 ayahs

سُورَةُ النِّسَاءِ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 171–176 of 176

171

يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌۭ مِّنْهُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۖ وَلَا تَقُولُوا۟ ثَلَٰثَةٌ ۚ ٱنتَهُوا۟ خَيْرًۭا لَّكُمْ ۚ إِنَّمَا ٱللَّهُ إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ سُبْحَٰنَهُۥٓ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌۭ ۘ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًۭا

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah ke-cuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dariNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan, '(Tuhan itu) tiga', berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (An-Nisa`: 171).

(171) Allah سبحانه وتعالى melarang Ahli Kitab dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama, yaitu melampaui batas dan ketentuan yang disyariatkan kepada perkara yang tidak disyariat-kan. Yang demikian itu adalah seperti perkataan kaum Nasrani yang melampaui batas terhadap Isa عليه السلام dan penempatan mereka terhadapnya melebihi dari kedudukan kenabian dan kerasulan kepada kedudukan ketuhanan yang tidak patut diberikan selain kepada Allah. Maka sebagaimana perkara asal-asalan dan lalai itu adalah perkara yang dilarang, maka melampaui batas juga dilarang. Karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَلَا تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ ﴿ "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar." Firman ini mengandung tiga perkara: Dua perkara di antaranya adalah dilarang, yaitu perkataan dusta terhadap Allah dan perkataan tanpa didasari dengan ilmu mengenai nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, syariatNya, dan rasul-rasulNya, dan perkara ketiga adalah yang diperintahkan (kepadanya) yaitu per-kataan yang benar dalam semua masalah tadi. Dan manakala hal ini adalah sebuah kaidah yang global (umum), dan konteks ayat ini adalah tentang Isa عليه السلام, Allah mene-gaskan perkataan yang benar dalam hal itu yang bertentangan dengan klaim (keyakinan) orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمَسِيحُ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Sesung-guhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah." Mak-sudnya, (sebagai Rasul Allah) itulah kedudukan paling tinggi dan predikat paling besar dari al-Masih عليه السلام dari derajat kesempurnaan yang didapatkan oleh makhluk, yaitu derajat kerasulan, yang me-rupakan tingkatan yang paling tinggi dan posisi yang paling mulia. Dan bahwa ia adalah ﴾ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلۡقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرۡيَمَ ﴿ "(yang diciptakan dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam," maksudnya, sebuah kata yang diucapkan oleh Allah, lalu jadilah Isa عليه السلام dengannya. Dan Isa bukanlah kata tersebut, namun Isa عليه السلام dijadikan dengannya. Ini adalah bentuk idhafah (kata majemuk) bernuansa pemuliaan dan penghormatan. Demikian juga FirmanNya, ﴾ وَرُوحٞ مِّنۡهُۖ ﴿ "Dan (dengan tiupan) ruh dariNya," yaitu, di antara ruh-ruh yang diciptakan olehNya, disempurnakan dengan sifat-sifat yang luhur, dan akhlak-akhlak yang sempurna. Allah mengutus RuhNya, Jibril عليه السلام, lalu meniup-kan ke dalam rahim Maryam عليها السلام hingga dia mengandung Isa dengan izin Allah. Dan ketika Allah menjelaskan hakikat dari pen-ciptaan Isa …

An-Nisaa 4:171Listen in Qur'an →
172

لَّن يَسْتَنكِفَ ٱلْمَسِيحُ أَن يَكُونَ عَبْدًۭا لِّلَّهِ وَلَا ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ٱلْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَن يَسْتَنكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِۦ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًۭا

Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

"Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah." (An-Nisa`: 172-173).

(172) Ketika Allah menyebutkan tentang perbuatan me-lampaui batas kaum Nasrani terhadap Isa عليه السلام, Allah menyebutkan juga bahwa Isa itu adalah hamba dan RasulNya, lalu Allah menye-butkan dalam ayat ini bahwa Isa tidaklah enggan beribadah kepada Tuhannya, artinya ia tidak menolak beribadah karena membenci-nya, tidak dirinya ﴾ وَلَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ٱلۡمُقَرَّبُونَۚ ﴿ "dan tidak (pula enggan) malai-kat-malaikat yang terdekat (kepada Allah)." Allah menyucikan mereka dari sikap keengganan, dan membersihkan mereka dari kesom-bongan adalah lebih pasti. Meniadakan suatu hal padanya adalah penetapan akan hal yang berlawanan dengannya. Artinya, sesung-guhnya Isa dan para malaikat yang dekat kepada Allah menyukai beribadah kepada Tuhan mereka, bahkan mencintai ibadah itu dan mereka berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya menurut kondisi mereka masing-masing. Maka Allah mewajibkan kemuliaan yang besar dan kemenangan yang agung itu untuk mereka, mereka tidaklah enggan menjadi hamba untuk rububiyah dan uluhiyahNya, bahkan mereka memandang bahwa hal itu sangat mereka butuhkan dengan kebutuhan yang luar biasa. Dan janganlah diperkirakan bahwa mengangkat Isa عليه السلام atau selainnya dari makhluk lebih tinggi dari derajatnya yang seharus-nya yang diberikan oleh Allah untuknya dan ditinggikan dari statusnya sebagai hamba adalah suatu kesempurnaan, akan tetapi itu justru kekurangan yang sebenarnya, dan itu akan menjadi sasaran celaan dan hukuman. Karena itulah Allah berfirman,﴾ وَمَن يَسۡتَنكِفۡ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيَسۡتَكۡبِرۡ فَسَيَحۡشُرُهُمۡ إِلَيۡهِ جَمِيعٗا ﴿ "Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan me-ngumpulkan mereka semua kepadaNya." Artinya, Allah mengumpul-kan seluruh makhluk kepadaNya, orang-orang yang enggan dan sombong dan juga hamba-hambaNya yang beriman, lalu Allah menegakkan pengadilan antara mereka semua dengan ketetapan-Nya yang adil dan balasanNya yang patut.

(173) Kemudian Allah merinci ketetapanNya atas diri me-reka, seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih," yaitu, mereka yang menggabungkan antara keimanan yang diperintahkan kepadanya dengan amal shalih berupa kewajiban dan sunnah dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, ﴾ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡ ﴿ "maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka," yaitu, balasan yang dihasilkan dari perbuatan, setiap orang sesuai dengan keimanan dan amalan-nya. ﴾ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦۖ ﴿ "Dan menambah untuk mereka …

An-Nisaa 4:172Listen in Qur'an →
173

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسْتَنكَفُوا۟ وَٱسْتَكْبَرُوا۟ فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًۭا وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّۭا وَلَا نَصِيرًۭا

Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah.

"Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah." (An-Nisa`: 172-173).

(172) Ketika Allah menyebutkan tentang perbuatan me-lampaui batas kaum Nasrani terhadap Isa عليه السلام, Allah menyebutkan juga bahwa Isa itu adalah hamba dan RasulNya, lalu Allah menye-butkan dalam ayat ini bahwa Isa tidaklah enggan beribadah kepada Tuhannya, artinya ia tidak menolak beribadah karena membenci-nya, tidak dirinya ﴾ وَلَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ٱلۡمُقَرَّبُونَۚ ﴿ "dan tidak (pula enggan) malai-kat-malaikat yang terdekat (kepada Allah)." Allah menyucikan mereka dari sikap keengganan, dan membersihkan mereka dari kesom-bongan adalah lebih pasti. Meniadakan suatu hal padanya adalah penetapan akan hal yang berlawanan dengannya. Artinya, sesung-guhnya Isa dan para malaikat yang dekat kepada Allah menyukai beribadah kepada Tuhan mereka, bahkan mencintai ibadah itu dan mereka berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya menurut kondisi mereka masing-masing. Maka Allah mewajibkan kemuliaan yang besar dan kemenangan yang agung itu untuk mereka, mereka tidaklah enggan menjadi hamba untuk rububiyah dan uluhiyahNya, bahkan mereka memandang bahwa hal itu sangat mereka butuhkan dengan kebutuhan yang luar biasa. Dan janganlah diperkirakan bahwa mengangkat Isa عليه السلام atau selainnya dari makhluk lebih tinggi dari derajatnya yang seharus-nya yang diberikan oleh Allah untuknya dan ditinggikan dari statusnya sebagai hamba adalah suatu kesempurnaan, akan tetapi itu justru kekurangan yang sebenarnya, dan itu akan menjadi sasaran celaan dan hukuman. Karena itulah Allah berfirman,﴾ وَمَن يَسۡتَنكِفۡ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَيَسۡتَكۡبِرۡ فَسَيَحۡشُرُهُمۡ إِلَيۡهِ جَمِيعٗا ﴿ "Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan me-ngumpulkan mereka semua kepadaNya." Artinya, Allah mengumpul-kan seluruh makhluk kepadaNya, orang-orang yang enggan dan sombong dan juga hamba-hambaNya yang beriman, lalu Allah menegakkan pengadilan antara mereka semua dengan ketetapan-Nya yang adil dan balasanNya yang patut.

(173) Kemudian Allah merinci ketetapanNya atas diri me-reka, seraya berfirman, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih," yaitu, mereka yang menggabungkan antara keimanan yang diperintahkan kepadanya dengan amal shalih berupa kewajiban dan sunnah dari hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya, ﴾ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡ ﴿ "maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka," yaitu, balasan yang dihasilkan dari perbuatan, setiap orang sesuai dengan keimanan dan amalan-nya. ﴾ وَيَزِيدُهُم مِّن فَضۡلِهِۦۖ ﴿ "Dan menambah untuk mereka …

An-Nisaa 4:173Listen in Qur'an →
174

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَكُم بُرْهَٰنٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ نُورًۭا مُّبِينًۭا

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).

"Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebe-naran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur`an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)Nya, niscaya Allah akan mema-sukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya." (An-Nisa`: 174-175).

(174) Allah سبحانه وتعالى telah memberikan karunia kepada seluruh manusia dengan apa yang telah mengantarkan kepada mereka berupa keterangan dan bukti yang nyata serta cahaya yang terang, dan menegakkan hujjah atas mereka, dan menjelaskan kepada me-reka syariatNya. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُم بُرۡهَٰنٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-mu," yaitu, hujjah-hujjah yang pasti di atas kebenaran, yang men-jelaskannya, menerangkannya, dan menjelaskan yang berlawanan dengannya. Ini mencakup seluruh dalil-dalil logika maupun riwa-yat, dan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) berupa semesta maupun di dalam diri manusia. ﴾ سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur`an itu adalah benar." (Fushshilat: 53). Dan dalam FirmanNya, ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Dari Tuhanmu," terdapat apa yang menunjukkan kepada kemuliaan bukti ini dan keagungannya, yang berasal dari Tuhan kalian yang telah mendidik kalian dengan pendidikan agama maupun dunia, dan di antara didikanNya ter-hadap kalian yang patut untuk dipuji dan disyukuri adalah me-nyampaikan keterangan-keterangan kepada kalian agar Allah memberi petunjuk kepada kalian dengannya kepada jalan yang lurus dan sampai kepada surga yang penuh kenikmatan. Dan Allah menurunkan ﴾ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا ﴿ "kepadamu cahaya yang terang benderang," yaitu, al-Qur`an yang agung ini; yang mencakup ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang, berita-berita yang benar dan bermanfaat, perintah kepada setiap keadilan, kebaikan, dan kebaktian, larangan dari setiap kezhaliman dan kejahatan. Manusia akan berada dalam kegelapan bila mereka tidak meneranginya dengan cahaya-cahaya al-Qur`an, dan berada dalam kesengsaraan bila tidak mendapatkan kebaikannya.

(175) Akan tetapi manusia terbagi menjadi dua bagian me-nurut keimanan kepada al-Qur`an dan mengambil manfaat darinya: ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah" yaitu mengakui keberadaanNya, menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, menyucikanNya dari segala kekurangan dan aib, ﴾ وَٱعۡتَصَمُواْ بِهِۦ ﴿ "dan berpegang teguh kepada (agama)Nya" yaitu mereka bersandar dan berpegang teguh kepada Allah serta ber-lepas diri dari daya dan kekuatan mereka dan hanya memohon pertolongan kepada Tuhan mereka, ﴾ فَسَيُدۡخِلُهُمۡ فِي رَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَفَضۡلٖ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya." …

An-Nisaa 4:174Listen in Qur'an →
175

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِهِۦ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِى رَحْمَةٍۢ مِّنْهُ وَفَضْلٍۢ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَٰطًۭا مُّسْتَقِيمًۭا

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.

"Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebe-naran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur`an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)Nya, niscaya Allah akan mema-sukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepadaNya." (An-Nisa`: 174-175).

(174) Allah سبحانه وتعالى telah memberikan karunia kepada seluruh manusia dengan apa yang telah mengantarkan kepada mereka berupa keterangan dan bukti yang nyata serta cahaya yang terang, dan menegakkan hujjah atas mereka, dan menjelaskan kepada me-reka syariatNya. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَكُم بُرۡهَٰنٞ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhan-mu," yaitu, hujjah-hujjah yang pasti di atas kebenaran, yang men-jelaskannya, menerangkannya, dan menjelaskan yang berlawanan dengannya. Ini mencakup seluruh dalil-dalil logika maupun riwa-yat, dan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan Allah) berupa semesta maupun di dalam diri manusia. ﴾ سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur`an itu adalah benar." (Fushshilat: 53). Dan dalam FirmanNya, ﴾ مِّن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Dari Tuhanmu," terdapat apa yang menunjukkan kepada kemuliaan bukti ini dan keagungannya, yang berasal dari Tuhan kalian yang telah mendidik kalian dengan pendidikan agama maupun dunia, dan di antara didikanNya ter-hadap kalian yang patut untuk dipuji dan disyukuri adalah me-nyampaikan keterangan-keterangan kepada kalian agar Allah memberi petunjuk kepada kalian dengannya kepada jalan yang lurus dan sampai kepada surga yang penuh kenikmatan. Dan Allah menurunkan ﴾ إِلَيۡكُمۡ نُورٗا مُّبِينٗا ﴿ "kepadamu cahaya yang terang benderang," yaitu, al-Qur`an yang agung ini; yang mencakup ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang, berita-berita yang benar dan bermanfaat, perintah kepada setiap keadilan, kebaikan, dan kebaktian, larangan dari setiap kezhaliman dan kejahatan. Manusia akan berada dalam kegelapan bila mereka tidak meneranginya dengan cahaya-cahaya al-Qur`an, dan berada dalam kesengsaraan bila tidak mendapatkan kebaikannya.

(175) Akan tetapi manusia terbagi menjadi dua bagian me-nurut keimanan kepada al-Qur`an dan mengambil manfaat darinya: ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah" yaitu mengakui keberadaanNya, menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, menyucikanNya dari segala kekurangan dan aib, ﴾ وَٱعۡتَصَمُواْ بِهِۦ ﴿ "dan berpegang teguh kepada (agama)Nya" yaitu mereka bersandar dan berpegang teguh kepada Allah serta ber-lepas diri dari daya dan kekuatan mereka dan hanya memohon pertolongan kepada Tuhan mereka, ﴾ فَسَيُدۡخِلُهُمۡ فِي رَحۡمَةٖ مِّنۡهُ وَفَضۡلٖ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dariNya (surga) dan limpahan karuniaNya." …

An-Nisaa 4:175Listen in Qur'an →
176

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ ٱللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِى ٱلْكَلَٰلَةِ ۚ إِنِ ٱمْرُؤٌا۟ هَلَكَ لَيْسَ لَهُۥ وَلَدٌۭ وَلَهُۥٓ أُخْتٌۭ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌۭ ۚ فَإِن كَانَتَا ٱثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا ٱلثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِن كَانُوٓا۟ إِخْوَةًۭ رِّجَالًۭا وَنِسَآءًۭ فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ ٱلْأُنثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ أَن تَضِلُّوا۟ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۢ

Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

"Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Kata-kanlah, 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu); jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu'." (An-Nisa`: 176).

(176) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa orang-orang meminta ketetapan hukum (fatwa) kepada Rasulullah ﷺ,[45] dalam perkara kalalah, atas dasar Firman Allah, ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُفۡتِيكُمۡ فِي ٱلۡكَلَٰلَةِۚ ﴿ "Katakan-lah, 'Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah," yaitu, seorang mayit yang meninggal namun tidak memiliki anak kandung, tidak pula cucu dari anak laki-laki, tidak pula ayah dan tidak pula kakek. Untuk itulah Allah berfirman, ﴾ إِنِ ٱمۡرُؤٌاْ هَلَكَ لَيۡسَ لَهُۥ وَلَدٞ ﴿ "Jika seorang me-ninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak," yaitu, tidak laki-laki tidak juga perempuan, tidak anak kandung dan tidak pula cucu dari anak laki-laki, demikian juga ia tidak memiliki ayah dengan dalil bahwa ia diwarisi oleh saudara laki-laki maupun saudara perempuan, berdasarkan ijma' ulama, di mana mereka tidak men-dapat warisan dengan adanya ayah. Dan bila seseorang meninggal dan tidak memiliki anak dan tidak pula ayah, ﴾ وَلَهُۥٓ أُخۡتٞ ﴿ "dan mem-punyai saudara perempuan," yaitu yang sekandung atau satu ayah atau satu ibu, sesungguhnya hukumnya telah berlalu. ﴾ فَلَهَا نِصۡفُ مَا تَرَكَۚ ﴿ "Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya," maksudnya, setengah dari harta peninggalan saudara laki-lakinya berupa uang cash, rumah, perabot, dan sebagainya. Yang demikian itu adalah setelah menunaikan hutang dan wasiat, sebagaimana yang telah berlalu. ﴾ وَهُوَ ﴿ "Dan saudaranya yang laki-laki" yaitu saudaranya yang laki-laki sekandung atau yang seayah, ﴾ يَرِثُهَآ إِن لَّمۡ يَكُن لَّهَا وَلَدٞۚ ﴿ "mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak," tetapi tidak ditentukan untuknya suatu ketentuan, karena dia adalah ashib (mewarisi sisa) dan ia mewarisi harta tersebut keseluruhannya apabila tidak ada pemilik hak yang tertentu, atau 'Ashabah lainnya yang bersekutu dengannya, atau apa yang tersisa dari hak-hak yang telah tertentu. ﴾ فَإِن كَانَتَا ﴿ "Tetapi jika saudara perempuan itu," yaitu dua orang saudara perempuan ﴾ ٱثۡنَتَيۡنِ ﴿ "dua orang" atau lebih,﴾ فَلَهُمَا ٱلثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَۚ وَإِن كَانُوٓاْ إِخۡوَةٗ رِّجَالٗا وَنِسَآءٗ ﴿ "maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan," berkumpulnya saudara laki-laki kan-dung atau seayah bersama saudara perempuan, ﴾ …

An-Nisaa 4:176Listen in Qur'an →

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.