Muslim99Muslim99
← Tafsir library

4. An-Nisaa

The Women · Medinan · 176 ayahs

سُورَةُ النِّسَاءِ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 141–150 of 176

141

ٱلَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِن كَانَ لَكُمْ فَتْحٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ قَالُوٓا۟ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ وَإِن كَانَ لِلْكَٰفِرِينَ نَصِيبٌۭ قَالُوٓا۟ أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُم مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۚ فَٱللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَلَن يَجْعَلَ ٱللَّهُ لِلْكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.

"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepadamu di dalam al-Qur`an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah di-ingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka mema-suki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesung-guhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam, (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang Mukmin). Maka jika terjadi kemenangan bagimu dari Allah, mereka berkata, 'Bukankah kami (turut berperang) be-serta kamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan, mereka berkata, 'Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang Mukmin?' Maka Allah akan mem-beri keputusan di antara kamu di Hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (An-Nisa`: 140-141).

(140) Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan kepada kalian tentang apa yang turun kepada kalian berupa hukum syariat saat hadir pada majelis-majelis kekufuran dan kemaksiatan,﴾ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا ﴿ "bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir)" maksudnya, direndah-kan, yang demikian itu adalah karena yang wajib atas setiap orang yang mukallaf adalah beriman kepada ayat-ayat Allah, meng-agungkan, memuliakan, dan menyeganinya. Dan itulah maksud dari diturunkannya ayat-ayat tersebut, dan demi hal itu juga Allah menciptakan para makhluk. Lawan dari beriman adalah kufur kepadanya, dan lawan dari mengagungkannya adalah mengolok-olok dan menghinanya, dan termasuk dalam hal itu, berdebat dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafik demi mema-tahkan ayat-ayat Allah dan membela kekufuran mereka. Demikian juga dengan ahli bid'ah dengan berbagai macam kelompok mereka. Sesungguhnya berhujjah demi kebatilan mereka mengandung makna pelecehan kepada ayat-ayat Allah, karena ayat-ayat tersebut tidaklah menunjukkan kecuali kepada kebenaran dan tidak ber-maksud kecuali kepada kebenaran, bahkan termasuk juga dalam hal ini menghadiri majelis-majelis kemaksiatan dan kefasikan di mana perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya dilecehkan di dalamnya dan hukum-hukumNya yang ditetapkan buat hamba-hambaNya dipermainkan. Puncak dari hal ini adalah larangan du-duk-duduk bersama mereka, ﴾ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ ﴿ "sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain," yaitu selain dari (pembicaraan) kufur terhadap ayat-ayat Allah dan menghinakannya. ﴾ إِنَّكُمۡ إِذٗا ﴿ "Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian)," yaitu, apabila kalian duduk bersama mereka pada kondisi yang disebutkan, ﴾ مِّثۡلُهُمۡۗ ﴿ "tentulah kamu serupa dengan mereka," karena kalian ridha dengan kekufuran dan penghinaan mereka itu. Seorang yang ridha terhadap kemaksiatan adalah seperti pelaku kemak-siatan itu sendiri. Intinya adalah bahwa barangsiapa yang hadir pada suatu majelis di mana dalam majelis tersebut Allah didurha-kai, maka wajib 'ain untuk diingkari bila …

An-Nisaa 4:141Listen in Qur'an →
142

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًۭا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya." (An-Nisa`: 141-142).

(142) Allah تعالى memberitakan tentang orang-orang munafik dengan sifat-sifat buruk mereka dan tanda-tanda yang jelek, dan bahwa jalan mereka adalah menipu Allah سبحانه وتعالى, yaitu, mereka menam-pakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran dengan tin-dakan. Mereka mengira bahwa hal itu tidak dilihat oleh Allah dan tidak diketahui olehNya serta tidak menampakkannya kepada hamba-hambaNya yang lain. Padahal sebenarnya Allah-lah yang membalas tipuan mereka, karena hanya dengan terjadinya sifat (dan sikap) tersebut pada mereka dan konsistensinya mereka terhadapnya, itu sebenarnya sebuah tipuan terhadap diri mereka sendiri, dan tipu daya apalagi yang lebih menyakitkan dari orang yang berusaha keras namun hanya menghasilkan kehinaan dan kerendahan bagi dirinya sendiri, dan tidak mendapatkan apa-apa. Dengan hal itu saja menunjukkan bahwa pelakunya tidak berakal, di mana ia menyatukan antara kemaksiatan yang ia pandang se-bagai suatu kebaikan dan mengira bahwa hal itu merupakan hasil dari akal dan tipu dayanya, dan hanya Allah yang mengetahui keburukan yang ditimbulkan oleh kebodohan dan kehinaan atas pemiliknya, dan di antara pendustaan Allah atas mereka pada Hari Kiamat adalah apa yang Allah sebutkan dalam FirmanNya, ﴾ يَوۡمَ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ 13 يُنَادُونَهُمۡ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَآءَ أَمۡرُ ٱللَّهِ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ 14 فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُؤۡخَذُ مِنكُمۡ فِدۡيَةٞ وَلَا مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ مَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُۖ هِيَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ 15 ﴿ "Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang Mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan me-nunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu dengan (keimanan kepada) Allah …

An-Nisaa 4:142Listen in Qur'an →
143

مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ سَبِيلًۭا

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya." (An-Nisa`: 141-142).

(142) Allah تعالى memberitakan tentang orang-orang munafik dengan sifat-sifat buruk mereka dan tanda-tanda yang jelek, dan bahwa jalan mereka adalah menipu Allah سبحانه وتعالى, yaitu, mereka menam-pakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran dengan tin-dakan. Mereka mengira bahwa hal itu tidak dilihat oleh Allah dan tidak diketahui olehNya serta tidak menampakkannya kepada hamba-hambaNya yang lain. Padahal sebenarnya Allah-lah yang membalas tipuan mereka, karena hanya dengan terjadinya sifat (dan sikap) tersebut pada mereka dan konsistensinya mereka terhadapnya, itu sebenarnya sebuah tipuan terhadap diri mereka sendiri, dan tipu daya apalagi yang lebih menyakitkan dari orang yang berusaha keras namun hanya menghasilkan kehinaan dan kerendahan bagi dirinya sendiri, dan tidak mendapatkan apa-apa. Dengan hal itu saja menunjukkan bahwa pelakunya tidak berakal, di mana ia menyatukan antara kemaksiatan yang ia pandang se-bagai suatu kebaikan dan mengira bahwa hal itu merupakan hasil dari akal dan tipu dayanya, dan hanya Allah yang mengetahui keburukan yang ditimbulkan oleh kebodohan dan kehinaan atas pemiliknya, dan di antara pendustaan Allah atas mereka pada Hari Kiamat adalah apa yang Allah sebutkan dalam FirmanNya, ﴾ يَوۡمَ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ 13 يُنَادُونَهُمۡ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَآءَ أَمۡرُ ٱللَّهِ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ 14 فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُؤۡخَذُ مِنكُمۡ فِدۡيَةٞ وَلَا مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ مَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُۖ هِيَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ 15 ﴿ "Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang Mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan me-nunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu dengan (keimanan kepada) Allah …

An-Nisaa 4:143Listen in Qur'an →
144

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْكَٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَٰنًۭا مُّبِينًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (pemimpin dan pelindung) dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?" (An-Nisa`: 144).

(144) Tatkala Allah menyebutkan bahwa di antara sifat-sifat orang-orang munafik itu adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dan penolong dengan meninggalkan orang-orang beriman, Allah melarang hamba-hambaNya yang beriman untuk menghiasi diri mereka dengan sifat yang jelek tersebut, dan melarang mereka menyerupai orang-orang munafik. Karena hal itu mengharuskan kalian ﴾ أَن تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗا مُّبِينًا ﴿ "mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?" Artinya, hujjah yang jelas untuk menghukum kalian. Karena Allah telah meng-ingatkan kita dan telah mengancam kita dari hal tersebut, dan telah memberitahukan tentang kemudharatannya, maka menempuh jalan tersebut setelah itu semua mengharuskan adanya hukuman. Dan (pada) ayat yang mulia ini terdapat dalil tentang kesempurna-an keadilan Allah, dan bahwa Allah tidaklah menyiksa seseorang sebelum ditegakkan hujjah atas dirinya. Juga menunjukkan ancaman dari kemaksiatan karena pelakunya telah mengadakan alasan yang nyata untuk disiksa oleh Allah.

An-Nisaa 4:144Listen in Qur'an →
145

إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan ber-pegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (An-Nisa`: 145-147).

(145) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang tempat kembali orang-orang munafik yaitu bahwa mereka berada pada derajat yang paling rendah dari siksaan dan paling buruk keadaan hukumannya, di bawah seluruh kaum kafir. Karena mereka ini bersekutu dengan kaum kafir dalam kufur kepada Allah dan memerangi RasulNya, namun orang-orang munafik itu melebihi kaum kafir dalam kons-pirasi (makar), tipu muslihat, dan kemampuan untuk memper-gunakan berbagai macam cara dalam memerangi kaum Muslimin dalam bentuk yang tidak disadari dan tidak terlihat jelas. Dan akhirnya mereka akan memperoleh semua kelebihan itu yaitu ber-lakunya hukum-hukum Islam atas mereka dan berhaknya mereka mendapatkan apa yang tidak didapatkan kaum kafir. Dengan itu mereka berhak mendapatkan siksaan yang paling keras dan mereka tidak memiliki tempat untuk menyelamatkan diri dari siksaanNya dan tidak pula penolong yang membela mereka dari sebagian siksaanNya.

(146) Ini umum bagi setiap orang munafik kecuali bagi orang-orang yang diberikan oleh Allah karunia atas mereka dengan penerimaan taubat dari kesalahan dan dosa, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "dan meng-adakan perbaikan" karena Allah, lahir maupun batin, berpegang teguh denganNya, bersandar kepadaNya demi memperoleh manfaat untuk mereka dan menolak mudharat menimpa mereka, ﴾ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka," yaitu Islam, iman, dan ihsan ﴾ لِلَّهِ ﴿ "karena Allah." Mereka mengharapkan Wajah Allah dengan amal-amal mereka, yang lahir maupun yang batin, terlepas dari riya' dan kemunafikan. Barangsiapa yang memiliki sifat-sifat tersebut, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman," yaitu, di dunia, di alam barzakh, dan pada Hari Kiamat. ﴾ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا ﴿ "Dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar," yang tidak ada yang mengetahui besarnya (seperti apa) kecuali Allah, yaitu balasan baik yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik pada sanubari seorang manusia pun. Perhatikanlah bagaimana Allah mengkhususkan kata "ber-pegang teguh" dan "ikhlas" dengan menyebutkan secara tersendiri, padahal kedua hal itu termasuk dalam FirmanNya, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "Dan mengadakan perbaikan," karena berpegang teguh dan ikhlas itu bagian dari perbaikan, dan keduanya sangat dibutuhkan sekali, khususnya pada kondisi yang sangat sulit seperti itu, di mana hati kemungkinan telah dikuasai oleh kemunafikan. Maka tidaklah akan menghilangkannya kecuali dengan berpegang …

An-Nisaa 4:145Listen in Qur'an →
146

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوا۟ دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًۭا

Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan ber-pegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (An-Nisa`: 145-147).

(145) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang tempat kembali orang-orang munafik yaitu bahwa mereka berada pada derajat yang paling rendah dari siksaan dan paling buruk keadaan hukumannya, di bawah seluruh kaum kafir. Karena mereka ini bersekutu dengan kaum kafir dalam kufur kepada Allah dan memerangi RasulNya, namun orang-orang munafik itu melebihi kaum kafir dalam kons-pirasi (makar), tipu muslihat, dan kemampuan untuk memper-gunakan berbagai macam cara dalam memerangi kaum Muslimin dalam bentuk yang tidak disadari dan tidak terlihat jelas. Dan akhirnya mereka akan memperoleh semua kelebihan itu yaitu ber-lakunya hukum-hukum Islam atas mereka dan berhaknya mereka mendapatkan apa yang tidak didapatkan kaum kafir. Dengan itu mereka berhak mendapatkan siksaan yang paling keras dan mereka tidak memiliki tempat untuk menyelamatkan diri dari siksaanNya dan tidak pula penolong yang membela mereka dari sebagian siksaanNya.

(146) Ini umum bagi setiap orang munafik kecuali bagi orang-orang yang diberikan oleh Allah karunia atas mereka dengan penerimaan taubat dari kesalahan dan dosa, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "dan meng-adakan perbaikan" karena Allah, lahir maupun batin, berpegang teguh denganNya, bersandar kepadaNya demi memperoleh manfaat untuk mereka dan menolak mudharat menimpa mereka, ﴾ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka," yaitu Islam, iman, dan ihsan ﴾ لِلَّهِ ﴿ "karena Allah." Mereka mengharapkan Wajah Allah dengan amal-amal mereka, yang lahir maupun yang batin, terlepas dari riya' dan kemunafikan. Barangsiapa yang memiliki sifat-sifat tersebut, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman," yaitu, di dunia, di alam barzakh, dan pada Hari Kiamat. ﴾ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا ﴿ "Dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar," yang tidak ada yang mengetahui besarnya (seperti apa) kecuali Allah, yaitu balasan baik yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik pada sanubari seorang manusia pun. Perhatikanlah bagaimana Allah mengkhususkan kata "ber-pegang teguh" dan "ikhlas" dengan menyebutkan secara tersendiri, padahal kedua hal itu termasuk dalam FirmanNya, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "Dan mengadakan perbaikan," karena berpegang teguh dan ikhlas itu bagian dari perbaikan, dan keduanya sangat dibutuhkan sekali, khususnya pada kondisi yang sangat sulit seperti itu, di mana hati kemungkinan telah dikuasai oleh kemunafikan. Maka tidaklah akan menghilangkannya kecuali dengan berpegang …

An-Nisaa 4:146Listen in Qur'an →
147

مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًۭا

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan ber-pegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (An-Nisa`: 145-147).

(145) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang tempat kembali orang-orang munafik yaitu bahwa mereka berada pada derajat yang paling rendah dari siksaan dan paling buruk keadaan hukumannya, di bawah seluruh kaum kafir. Karena mereka ini bersekutu dengan kaum kafir dalam kufur kepada Allah dan memerangi RasulNya, namun orang-orang munafik itu melebihi kaum kafir dalam kons-pirasi (makar), tipu muslihat, dan kemampuan untuk memper-gunakan berbagai macam cara dalam memerangi kaum Muslimin dalam bentuk yang tidak disadari dan tidak terlihat jelas. Dan akhirnya mereka akan memperoleh semua kelebihan itu yaitu ber-lakunya hukum-hukum Islam atas mereka dan berhaknya mereka mendapatkan apa yang tidak didapatkan kaum kafir. Dengan itu mereka berhak mendapatkan siksaan yang paling keras dan mereka tidak memiliki tempat untuk menyelamatkan diri dari siksaanNya dan tidak pula penolong yang membela mereka dari sebagian siksaanNya.

(146) Ini umum bagi setiap orang munafik kecuali bagi orang-orang yang diberikan oleh Allah karunia atas mereka dengan penerimaan taubat dari kesalahan dan dosa, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "dan meng-adakan perbaikan" karena Allah, lahir maupun batin, berpegang teguh denganNya, bersandar kepadaNya demi memperoleh manfaat untuk mereka dan menolak mudharat menimpa mereka, ﴾ وَأَخۡلَصُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka," yaitu Islam, iman, dan ihsan ﴾ لِلَّهِ ﴿ "karena Allah." Mereka mengharapkan Wajah Allah dengan amal-amal mereka, yang lahir maupun yang batin, terlepas dari riya' dan kemunafikan. Barangsiapa yang memiliki sifat-sifat tersebut, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ ﴿ "maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman," yaitu, di dunia, di alam barzakh, dan pada Hari Kiamat. ﴾ وَسَوۡفَ يُؤۡتِ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَجۡرًا عَظِيمٗا ﴿ "Dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar," yang tidak ada yang mengetahui besarnya (seperti apa) kecuali Allah, yaitu balasan baik yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik pada sanubari seorang manusia pun. Perhatikanlah bagaimana Allah mengkhususkan kata "ber-pegang teguh" dan "ikhlas" dengan menyebutkan secara tersendiri, padahal kedua hal itu termasuk dalam FirmanNya, ﴾ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "Dan mengadakan perbaikan," karena berpegang teguh dan ikhlas itu bagian dari perbaikan, dan keduanya sangat dibutuhkan sekali, khususnya pada kondisi yang sangat sulit seperti itu, di mana hati kemungkinan telah dikuasai oleh kemunafikan. Maka tidaklah akan menghilangkannya kecuali dengan berpegang …

An-Nisaa 4:147Listen in Qur'an →
148

۞ لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

"Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) de-ngan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu menampak-kan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa." (An-Nisa`: 148-149).

(148) Allah تعالى mengabarkan bahwa Dia tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan dengan terang-terangan, artinya, Allah membencinya, melaknatnya, dan menyiapkan hukuman atasnya. Termasuk di dalamnya adalah seluruh perkataan yang buruk yang menjelekkan dan menyedihkan, seperti celaan, tuduhan, umpatan, dan semacamnya. Semua itu adalah di antara hal-hal yang dilarang yang sangat dibenci oleh Allah. Pemahaman terbalik dari ayat ini adalah bahwa Allah menyu-kai perkataan yang baik, seperti dzikir dan perkataan yang baik lagi lembut. Dan FirmanNya, ﴾ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ ﴿ "Kecuali oleh orang yang dianiaya," maksudnya, ia boleh mendoakan keburukan atas orang yang menzhaliminya, ia mengadukan kezhalimannya, dan terang-terangan menyampaikan perkataan jelek kepada orang yang me-lantangkan perkataan jelek kepadanya tanpa ia berdusta atasnya, dan tidak pula melebihi dari kezhaliman yang dirasakannya, dan tidak pula melebihi celaannya itu kepada selain orang yang telah menzhaliminya. Namun demikian, tindakannya untuk memaafkan dan tidak membalasnya adalah lebih utama sebagaimana dalam FirmanNya, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Menge-tahui." Tatkala ayat ini mencakup perkataan yang buruk, baik, dan mubah, lalu Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Mendengar; yang mendengar perkataan-perkataan kalian, maka berhati-hatilah kalian untuk berbicara dengan sesuatu yang akan membuat Allah murka lalu menghukum kalian (karenanya). Ayat ini juga menun-jukkan anjuran untuk berkata yang baik, dan Allah Maha Menge-tahui akan niat-niat kalian dan sumber dari perkataan-perkataan kalian.

(149) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ ﴿ "Jika kamu menampakkan suatu kebaikan atau menyembunyikannya," ini mencakup segala kebaikan, perkataan, maupun perbuatan, lahir maupun batin dan berupa wajib maupun sunnah, ﴾ أَوۡ تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ ﴿ "atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain)," maksudnya, dari se-orang yang telah berbuat buruk pada tubuh, harta, dan kehormatan kalian, maka maafkanlah kesalahannya tersebut. Karena balasan itu sesuai dengan perbuatan. Barangsiapa yang memaafkan karena Allah, niscaya Allah akan memaafkannya, dan barangsiapa yang berbuat baik, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Karena itulah Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا ﴿ "Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa," maksudnya, Allah memaafkan segala ketergelinciran hamba-hambaNya dan dosa-dosa mereka yang besar. Allah menutup kekurangan mereka kemudian memper-lakukan mereka dengan maaf yang penuh yang bersumber dari kekuatanNya. Ayat ini mengandung arahan untuk mendalami makna nama-nama Allah …

An-Nisaa 4:148Listen in Qur'an →
149

إِن تُبْدُوا۟ خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا۟ عَن سُوٓءٍۢ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّۭا قَدِيرًا

Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.

"Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) de-ngan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu menampak-kan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa." (An-Nisa`: 148-149).

(148) Allah تعالى mengabarkan bahwa Dia tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan dengan terang-terangan, artinya, Allah membencinya, melaknatnya, dan menyiapkan hukuman atasnya. Termasuk di dalamnya adalah seluruh perkataan yang buruk yang menjelekkan dan menyedihkan, seperti celaan, tuduhan, umpatan, dan semacamnya. Semua itu adalah di antara hal-hal yang dilarang yang sangat dibenci oleh Allah. Pemahaman terbalik dari ayat ini adalah bahwa Allah menyu-kai perkataan yang baik, seperti dzikir dan perkataan yang baik lagi lembut. Dan FirmanNya, ﴾ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ ﴿ "Kecuali oleh orang yang dianiaya," maksudnya, ia boleh mendoakan keburukan atas orang yang menzhaliminya, ia mengadukan kezhalimannya, dan terang-terangan menyampaikan perkataan jelek kepada orang yang me-lantangkan perkataan jelek kepadanya tanpa ia berdusta atasnya, dan tidak pula melebihi dari kezhaliman yang dirasakannya, dan tidak pula melebihi celaannya itu kepada selain orang yang telah menzhaliminya. Namun demikian, tindakannya untuk memaafkan dan tidak membalasnya adalah lebih utama sebagaimana dalam FirmanNya, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Menge-tahui." Tatkala ayat ini mencakup perkataan yang buruk, baik, dan mubah, lalu Allah mengabarkan bahwa Dia Maha Mendengar; yang mendengar perkataan-perkataan kalian, maka berhati-hatilah kalian untuk berbicara dengan sesuatu yang akan membuat Allah murka lalu menghukum kalian (karenanya). Ayat ini juga menun-jukkan anjuran untuk berkata yang baik, dan Allah Maha Menge-tahui akan niat-niat kalian dan sumber dari perkataan-perkataan kalian.

(149) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تُبۡدُواْ خَيۡرًا أَوۡ تُخۡفُوهُ ﴿ "Jika kamu menampakkan suatu kebaikan atau menyembunyikannya," ini mencakup segala kebaikan, perkataan, maupun perbuatan, lahir maupun batin dan berupa wajib maupun sunnah, ﴾ أَوۡ تَعۡفُواْ عَن سُوٓءٖ ﴿ "atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain)," maksudnya, dari se-orang yang telah berbuat buruk pada tubuh, harta, dan kehormatan kalian, maka maafkanlah kesalahannya tersebut. Karena balasan itu sesuai dengan perbuatan. Barangsiapa yang memaafkan karena Allah, niscaya Allah akan memaafkannya, dan barangsiapa yang berbuat baik, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Karena itulah Allah berfirman, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوّٗا قَدِيرًا ﴿ "Maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa," maksudnya, Allah memaafkan segala ketergelinciran hamba-hambaNya dan dosa-dosa mereka yang besar. Allah menutup kekurangan mereka kemudian memper-lakukan mereka dengan maaf yang penuh yang bersumber dari kekuatanNya. Ayat ini mengandung arahan untuk mendalami makna nama-nama Allah …

An-Nisaa 4:149Listen in Qur'an →
150

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا۟ بَيْنَ ٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍۢ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍۢ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا۟ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan, 'Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)', serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), mereka-lah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menye-diakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghina-kan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa`: 150-152).

(150) Di sini ada dua bagian yang telah Allah jelaskan masing-masing dari keduanya: Pertama, seorang yang beriman kepada Allah, kepada seluruh rasulNya dan kitab-kitabNya, dan kedua, seorang yang kafir kepada itu semua. Maka tersisa orang yang ketiga yaitu orang yang mengaku bahwa ia beriman kepada sebagian rasul dan tidak kepada sebagian lainnya, dan bahwa hal ini adalah jalan yang akan menyelamatkannya dari siksaan Allah. Sesungguhnya hal itu tidak lain hanyalah angan-angan belaka, sesungguhnya orang-orang itu menghendaki pemisahan antara Allah dan rasul-rasulNya. Sesungguhnya barangsiapa yang berwali kepada Allah secara sungguh-sungguh, niscaya ia akan berwali juga kepada seluruh rasul-rasulNya, karena hal itu merupakan kesempurnaan perwalian, dan barangsiapa yang memusuhi salah satu dari rasul-rasulNya, sesungguhnya ia telah memusuhi Allah dan memusuhi seluruh rasul-rasulNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ مَن كَانَ عَدُوّٗا لِّلَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَجِبۡرِيلَ وَمِيكَىٰلَ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَدُوّٞ لِّلۡكَٰفِرِينَ 98 ﴿ "Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 98). Demikian juga halnya orang yang kafir terhadap seorang rasul sesungguhnya ia telah kafir kepada seluruh rasul, bahkan kepada rasul yang ia mengaku bahwa ia beriman kepadanya.

(151-152) Karena itulah Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ حَقّٗاۚ ﴿ "Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya," yang demikian itu agar tidak ada asumsi yang salah bahwa kedudukan mereka adalah pertengahan antara iman dan kufur. Alasan mereka disebut sebagai kafir hingga terhadap nabi yang mereka klaim bahwa me-reka beriman kepadanya, bahwa setiap dalil yang menunjukkan kepada mereka untuk beriman kepada orang yang mereka imani, dalil itu sendiri atau yang sepertinya atau yang lebih tinggi dari-nya adalah ada pada nabi yang mereka kafir kepadanya. Setiap syubhat yang mereka tuduhkan kepada Nabi ﷺ yang mereka kafir kepadanya, syubhat tersebut atau bahkan yang lebih besar darinya ada pada rasul yang mereka imani. Maka selain itu tidak ada lagi yang tersisa kecuali keinginan syahwat, nafsu dan sekedar penga-kuan yang mungkin saja setiap orang mampu menolaknya dengan dalih yang sama sepertinya. Dan tatkala Allah menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dengan sebenar-benarnya, lalu Allah menyebutkan hukuman yang …

An-Nisaa 4:150Listen in Qur'an →

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.