Muslim99Muslim99
← Tafsir library

4. An-Nisaa

The Women · Medinan · 176 ayahs

سُورَةُ النِّسَاءِ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 131–140 of 176

131

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًۭا

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.

"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu; bertakwa-lah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah, dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (An-Nisa`: 131-132).

(131-132) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang luasnya kerajaan-Nya yang agung yang menuntut untuk dikelola dengan berbagai bentuk pengelolaan, dan diurusi dengan berbagai macam aturan, baik secara takdir maupun syariat. Pengelolaan Allah menurut syariat yaitu Dia mewasiatkan kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang terakhir, Ahli Kitab terdahulu dan yang akan datang untuk bertakwa, yang mengandung perintah, larangan, dan penga-daan hukum-hukum syariat, dan balasan orang yang menegakkan wasiat tersebut dengan pahala dan hukuman bagi orang yang melalaikannya dan menyia-nyiakannya dengan pedihnya siksa neraka, karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَإِن تَكۡفُرُواْ ﴿ "Tetapi jika kamu kafir" dengan meninggalkan takwa kepada Allah dan kalian syirik kepada Allah di mana Allah tidaklah menurunkan suatu keterangan pun akan hal tersebut, sesungguhnya perbuatan kalian itu tidaklah memudharatkan kecuali bagi diri kalian sendiri, dan tidaklah kalian memudharatkan Allah sedikit pun, dan tidak pula kalian mengu-rangi kerajaanNya, Dia memiliki hamba-hamba yang lain dan lebih baik dari kalian, lebih agung dan lebih banyak, yang tunduk dan taat kepadaNya serta patuh terhadap perintahNya, karena itulah Allah menyiapkan balasan akan hal itu dalam FirmanNya, ﴾ وَإِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدٗا ﴿ "Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah, dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji," Dia memiliki kedermawanan yang sempurna, karunia yang menyeluruh yang bersumber dari perbendaharaan rahmat-Nya yang tidak akan berkurang dengan infak dan tidak pula berkurang dengan nafkah. KaruniaNya mengalir terus siang dan malam, dan sekiranya penduduk langit dan penduduk bumi dari orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang ber-kumpul lalu setiap orang dari mereka memohon seluruh hal yang diangan-angankan olehnya, (maka hal itu) tidaklah akan mengu-rangi sedikit pun dari kerajaanNya, yang demikian itu karena Allah Mahamulia, Maha Pemberi lagi Mahaagung, pemberianNya adalah FirmanNya, siksaNya adalah FirmanNya, sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berfirman kepadanya, "Jadilah" maka jadilah ia, dan merupakan kesempurna-an KekayaanNya bahwa Dia memiliki sifat yang sempurna, karena bila ada kekurangan sedikit pun dalam sisi apa pun juga, maka masih ada semacam kebutuhan kepada kesempurnaan tersebut, akan tetapi Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan, dan di antara sifat-sifat itu adalah kesempurnaan sifat-sifatNya. Dan di antara kesempurnaan kekayaanNya bahwa Dia tidak-lah memiliki istri, tidak pula anak, tidak pula …

An-Nisaa 4:131Listen in Qur'an →
132

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu; bertakwa-lah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah, dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (An-Nisa`: 131-132).

(131-132) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang luasnya kerajaan-Nya yang agung yang menuntut untuk dikelola dengan berbagai bentuk pengelolaan, dan diurusi dengan berbagai macam aturan, baik secara takdir maupun syariat. Pengelolaan Allah menurut syariat yaitu Dia mewasiatkan kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang terakhir, Ahli Kitab terdahulu dan yang akan datang untuk bertakwa, yang mengandung perintah, larangan, dan penga-daan hukum-hukum syariat, dan balasan orang yang menegakkan wasiat tersebut dengan pahala dan hukuman bagi orang yang melalaikannya dan menyia-nyiakannya dengan pedihnya siksa neraka, karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَإِن تَكۡفُرُواْ ﴿ "Tetapi jika kamu kafir" dengan meninggalkan takwa kepada Allah dan kalian syirik kepada Allah di mana Allah tidaklah menurunkan suatu keterangan pun akan hal tersebut, sesungguhnya perbuatan kalian itu tidaklah memudharatkan kecuali bagi diri kalian sendiri, dan tidaklah kalian memudharatkan Allah sedikit pun, dan tidak pula kalian mengu-rangi kerajaanNya, Dia memiliki hamba-hamba yang lain dan lebih baik dari kalian, lebih agung dan lebih banyak, yang tunduk dan taat kepadaNya serta patuh terhadap perintahNya, karena itulah Allah menyiapkan balasan akan hal itu dalam FirmanNya, ﴾ وَإِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدٗا ﴿ "Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah, dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji," Dia memiliki kedermawanan yang sempurna, karunia yang menyeluruh yang bersumber dari perbendaharaan rahmat-Nya yang tidak akan berkurang dengan infak dan tidak pula berkurang dengan nafkah. KaruniaNya mengalir terus siang dan malam, dan sekiranya penduduk langit dan penduduk bumi dari orang-orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang ber-kumpul lalu setiap orang dari mereka memohon seluruh hal yang diangan-angankan olehnya, (maka hal itu) tidaklah akan mengu-rangi sedikit pun dari kerajaanNya, yang demikian itu karena Allah Mahamulia, Maha Pemberi lagi Mahaagung, pemberianNya adalah FirmanNya, siksaNya adalah FirmanNya, sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berfirman kepadanya, "Jadilah" maka jadilah ia, dan merupakan kesempurna-an KekayaanNya bahwa Dia memiliki sifat yang sempurna, karena bila ada kekurangan sedikit pun dalam sisi apa pun juga, maka masih ada semacam kebutuhan kepada kesempurnaan tersebut, akan tetapi Allah memiliki seluruh sifat kesempurnaan, dan di antara sifat-sifat itu adalah kesempurnaan sifat-sifatNya. Dan di antara kesempurnaan kekayaanNya bahwa Dia tidak-lah memiliki istri, tidak pula anak, tidak pula …

An-Nisaa 4:132Listen in Qur'an →
133

إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا ٱلنَّاسُ وَيَأْتِ بِـَٔاخَرِينَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ قَدِيرًۭا

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian.

"Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan Allah Mahakuasa berbuat demikian. Barang-siapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (An-Nisa`: 133-134).

(133) Yaitu Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji, yang memiliki kekuasaan yang sempurna dan kehendak yang terlaksana pada kalian, ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ أَيُّهَا ٱلنَّاسُ وَيَأۡتِ بِـَٔاخَرِينَۚ ﴿ "jika Allah menghen-daki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu)," selain kalian yang lebih taat kepada Allah, dan lebih baik daripada kalian. Hal ini merupakan ancaman buat manusia terhadap perbuatan mereka dalam keku-furan dan berpalingnya mereka dari Rabb mereka, sesungguhnya Allah sedikit pun tidaklah lemah dari mereka bila mereka tidak me-naatiNya, akan tetapi Allah menangguhkan mereka dan menunda siksaNya dan tidak melalaikan mereka.

(134) Kemudian Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang cita-cita dan keinginannya rendah yang tidak melebihi dari balasan duniawi semata, dan tidak memiliki keinginan sama sekali kepada akhirat, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan usaha dan pandangannya, di samping itu tidaklah ia memperoleh balasan dunia kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Pemilik segala sesuatu yang memiliki balasan dunia dan akhirat, maka agar kedua hal itu diharapkan dariNya سبحانه وتعالى dan dimohonkan pertolongan kepadaNya akan keduanya, dan sesungguhnya tidaklah akan diperoleh apa yang ada di sisiNya kecuali dengan menaatiNya, dan tidaklah akan dipenuhi perkara-perkara dunia maupun akhirat kecuali dengan memohon perto-longan kepadaNya dan mengemis kepadaNya secara terus mene-rus. MilikNyalah segala hikmah dalam membimbing orang yang diberi taufikNya dan dalam menghinakan orang yang dihinakan dan dalam pemberian dan laranganNya, karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

An-Nisaa 4:133Listen in Qur'an →
134

مَّن كَانَ يُرِيدُ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا فَعِندَ ٱللَّهِ ثَوَابُ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا

Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

"Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan Allah Mahakuasa berbuat demikian. Barang-siapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (An-Nisa`: 133-134).

(133) Yaitu Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji, yang memiliki kekuasaan yang sempurna dan kehendak yang terlaksana pada kalian, ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ أَيُّهَا ٱلنَّاسُ وَيَأۡتِ بِـَٔاخَرِينَۚ ﴿ "jika Allah menghen-daki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu)," selain kalian yang lebih taat kepada Allah, dan lebih baik daripada kalian. Hal ini merupakan ancaman buat manusia terhadap perbuatan mereka dalam keku-furan dan berpalingnya mereka dari Rabb mereka, sesungguhnya Allah sedikit pun tidaklah lemah dari mereka bila mereka tidak me-naatiNya, akan tetapi Allah menangguhkan mereka dan menunda siksaNya dan tidak melalaikan mereka.

(134) Kemudian Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang cita-cita dan keinginannya rendah yang tidak melebihi dari balasan duniawi semata, dan tidak memiliki keinginan sama sekali kepada akhirat, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan usaha dan pandangannya, di samping itu tidaklah ia memperoleh balasan dunia kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuknya, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Pemilik segala sesuatu yang memiliki balasan dunia dan akhirat, maka agar kedua hal itu diharapkan dariNya سبحانه وتعالى dan dimohonkan pertolongan kepadaNya akan keduanya, dan sesungguhnya tidaklah akan diperoleh apa yang ada di sisiNya kecuali dengan menaatiNya, dan tidaklah akan dipenuhi perkara-perkara dunia maupun akhirat kecuali dengan memohon perto-longan kepadaNya dan mengemis kepadaNya secara terus mene-rus. MilikNyalah segala hikmah dalam membimbing orang yang diberi taufikNya dan dalam menghinakan orang yang dihinakan dan dalam pemberian dan laranganNya, karena itulah Allah berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

An-Nisaa 4:134Listen in Qur'an →
135

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًۭا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًۭا

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Kemudian Allah تعالى berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kera-batmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemas-lahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalik-kan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan." (An-Nisa`: 135).

(135) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar mereka menjadi ﴾ قَوَّٰمِينَ بِٱلۡقِسۡطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ ﴿ "orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah," al-Qawwam (penegak keadilan) adalah sebuah kata yang menunjukkan makna lebih (Sighah mubalaghah), artinya jadilah kalian penegak keadilan dalam segala kondisi terhadap hak-hak Allah dan hak-hak hamba-hambaNya. Adil terhadap hak-hak Allah adalah tidak memakai nikmat-nikmatNya untuk bermaksiat kepadaNya, akan tetapi se-harusnya dipergunakan dalam ketaatan kepadaNya, sedang adil terhadap hak-hak manusia adalah menunaikan segala hak-hak yang menjadi tanggung jawabmu sebagaimana engkau meminta hak-hak dirimu. Maka Anda (seyogyanya) menunaikan nafkah-nafkah yang wajib dan hutang-hutang, dan bermuamalah terhadap manusia dengan akhlak dan tata krama yang Anda sendiri ingin diperlakukan dengannya, juga dengan penghargaan dan sebagainya. Di antara bentuk-bentuk keadilan yang paling agung adalah adil dalam menilai ucapan (pandangan) dan orang-orang yang memiliki pandangan tersebut, tidak menetapkan untuk salah satu perkataan atau salah satu dari dua orang yang berselisih hanya karena bernisbah kepadanya atau kecondongannya kepada salah satunya, akan tetapi ia harus berlaku adil di antara keduanya, dan di antara keadilan itu adalah menunaikan kesaksian yang ada padamu dalam bentuk apa pun, hingga walaupun atas orang-orang yang dicintai, bahkan atas diri sendiri, karena itulah Allah berfirman,﴾ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ أَوِ ٱلۡوَٰلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَۚ إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرٗا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِهِمَاۖ ﴿ "Menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya," maksudnya, janganlah kalian memper-timbangkan seorang yang kaya karena kekayaannya, dan seorang yang miskin dengan prasangka bahwa hal itu adalah sebagai belas kasih baginya, akan tetapi bersaksilah dengan benar atas siapa pun orangnya. Menegakkan keadilan adalah di antara perkara yang paling agung dan paling menunjukkan akan keberagamaan penegak ke-adilan tersebut dan sikap hati-hatinya serta kedudukannya dalam Islam, maka wajiblah atas orang yang mau menasihati dirinya dan menghendaki keselamatan dirinya agar memperhatikan hal terse-but dengan sebaik-baiknya, dan selalu menjadikannya di hadapan matanya dan tujuan keinginannya, dan agar ia menghilangkan dari jiwanya segala hal yang menghalangi dan merintangi dirinya dari menegakkan keadilan atau mengamalkan keadilan tersebut, dan rintangan yang paling terbesar dalam hal itu …

An-Nisaa 4:135Listen in Qur'an →
136

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada RasulNya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Hari Kemudian, maka sung-guh orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (An-Nisa`: 136).

(136) Ketahuilah bahwa perintah ini bisa jadi diarahkan kepada orang yang belum masuk dalam sesuatu pun atau belum berjulukan dengan suatu pun darinya, maka perintah ini menjadi perintah untuknya agar masuk ke dalamnya, yang demikian itu adalah seperti perintah kepada orang yang belum beriman untuk beriman, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ ءَامِنُواْ بِمَا نَزَّلۡنَا مُصَدِّقٗا لِّمَا مَعَكُم. . . . ﴿ "Hai orang-orang yang telah diberi al-Kitab, berimanlah kamu ke-pada apa yang telah Kami turunkan (al-Qur`an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu ..." (An-Nisa`: 47), atau diarahkan kepada orang yang telah masuk ke dalam sesuatu, maka perintah ini menjadi perintah untuknya agar memperbaiki apa yang didapatkan darinya atau memperoleh apa yang belum didapatkan, di antara hal itu adalah apa yang telah disebutkan oleh Allah dalam ayat ini berupa perintah untuk kaum Mukminin agar beriman, karena sesungguhnya hal itu menunjukkan suatu perintah kepada mereka dengan perkara yang memperbaiki ke-imanan mereka berupa keikhlasan, kejujuran, menghindari keru-sakan dan bertaubat dari segala bentuk kelalaian, juga menunjuk-kan perintah dengan perkara yang belum ada dari seorang Mukmin berupa ilmu keimanan dan perbuatan-perbuatannya, karena setiap kali suatu nash sampai kepadanya lalu ia paham maksudnya dan meyakininya, maka hal itu adalah keimanan yang diperintahkan kepadanya, demikian juga seluruh perbuatan-perbuatan lahiriyah dan batiniyah, seluruhnya dari keimanan, sebagaimana yang di-tunjukkan oleh banyak nash-nash dan telah disepakati oleh para ulama salaf umat ini, kemudian konsisten terhadap hal tersebut dan tegar di atasnya hingga maut menjemput, seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ 102 ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102). Dalam an-Nisa` ayat ke-136 ini, Allah memerintahkan untuk beriman kepadaNya, kepada Rasul-rasulNya, kepada al-Qur`an dan kitab-kitab sebelumnya. Semua itu adalah di antara keimanan yang wajib di mana seorang hamba tidaklah dikatakan beriman kecuali dengannya; beriman secara global, apabila tidak sampai kepadanya rincian tentangnya, dan beriman secara rinci bila hal bersangkutan diketahui secara rinci. Barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang diperintahkan tersebut, sesungguhnya ia telah mendapat hidayah dan telah selamat. Barangsiapa yang kafir ﴾ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ﴿ "kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan Hari Kemudian, maka sungguh orang itu telah …

An-Nisaa 4:136Listen in Qur'an →
137

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ثُمَّ كَفَرُوا۟ ثُمَّ ءَامَنُوا۟ ثُمَّ كَفَرُوا۟ ثُمَّ ٱزْدَادُوا۟ كُفْرًۭا لَّمْ يَكُنِ ٱللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلًۢا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kamudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

Kemudian Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertam-bah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus." (An-Nisa`: 137).

(137) Maksudnya, barangsiapa yang berulang kali terjadi kekufuran pada dirinya setelah keimanan; di mana dia mendapat petunjuk masuk Islam kemudian tersesat, melihat (kebenaran) kemudian buta, beriman kemudian kafir, dan berlanjut di atas kekufurannya bahkan kekufurannya bertambah, maka sesungguh-nya ia telah jauh dari taufik dan petunjuk kepada jalan yang lurus, juga jauh dari ampunan karena ia telah melakukan perkara yang merupakan penghalang terbesar yang merintanginya dalam memperoleh ampunan tersebut, sesungguhnya kekufurannya itu menjadi hukuman untuknya dan menjadi tabiat yang tidak akan lenyap darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka." (Ash-Shaff: 5) dan ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan me-reka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya." (Al-An'am: 110). Ayat ini menunjukkan bahwa bila kekufuran mereka tidak bertambah akan tetapi mereka kembali kepada keimanan dan meninggalkan keyakinan mereka berupa kekufuran tersebut, maka sesungguhnya Allah mengampuni mereka, walaupun mereka telah berulang kali keluar dari Islam, lalu bila ketetapan tersebut dibuat untuk tindakan kekufuran, maka selain dari kekufuran seperti kemaksiatan yang tidak menyebabkan kekufuran adalah lebih utama dan lebih patut, bahwa seorang hamba bila berulang-ulang melakukan kemaksiatan kemudian ia kembali kepada taubat, niscaya Allah akan kembali juga mengampuninya.

An-Nisaa 4:137Listen in Qur'an →
138

بَشِّرِ ٱلْمُنَٰفِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

"Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguh-nya semua kekuatan itu kepunyaan Allah." (An-Nisa`: 138-139).

(138-139) Al-Bisyarah (kabar gembira) itu biasanya dipakai pada perkara yang baik, dan terkadang dipakai dalam perkara yang buruk dengan syarat, seperti dalam ayat ini, Allah berfirman, ﴾ بَشِّرِ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Kabarkanlah kepada orang-orang munafik," yaitu orang-orang yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran dengan kabar yang paling jelek dan paling buruk, yaitu azab yang pedih. Yang demikian itu karena mereka mencintai orang-orang kafir dan menolong mereka, membela mereka serta meninggalkan cinta dan kasih sayang kepada kaum Mukminin, perkara apakah yang mendorong mereka melakukan hal tersebut? Apakah mereka mengharapkan kemuliaan dari orang-orang kafir itu? Seperti inilah kenyataan dari orang-orang munafik, prasangka mereka buruk terhadap Allah, keyakinan mereka lemah terhadap pertolongan Allah kepada kaum Mukminin, dan mereka menyaksikan beberapa faktor pendorong pada kaum kafir namun pandangan mereka pendek tentang akibat yang terjadi di balik itu, hingga membuat mereka menjadikan kaum kafir sebagai penolong yang mereka banggakan dan meminta pertolongan mereka. Padahal kenyataan-nya adalah seluruh kemuliaan itu adalah milik Allah, dan sesung-guhnya ubun-ubun para hamba ada di tangan Allah dan kehen-dakNya pastilah terlaksana pada mereka. Dan sesungguhnya Allah telah menjamin untuk membela agamaNya dan hamba-hambaNya yang beriman, walaupun diselingi dengan beberapa ujian dan cobaan bagi hamba-hambaNya yang beriman tersebut dan musuh berkuasa atas mereka dengan penguasaan yang bersifat sementara, karena sesungguhnya hasil akhir yang baik dan kebahagian itu adalah milik kaum Mukminin. Ayat ini mengandung ancaman yang besar atas tindakan menjadikan kaum kafir sebagai penolong dan pembela, dan me-ninggalkan kaum Mukminin dalam perkara tersebut, dan bahwa hal seperti itu adalah di antara sifat-sifat kaum munafik, dan bahwa keimanan itu menuntut untuk mencintai kaum Mukminin dan menjadikan mereka sebagai penolong dan pembela, dan membenci kaum kafir dan memusuhi mereka.

An-Nisaa 4:138Listen in Qur'an →
139

ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلْكَٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلْعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًۭا

(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

"Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguh-nya semua kekuatan itu kepunyaan Allah." (An-Nisa`: 138-139).

(138-139) Al-Bisyarah (kabar gembira) itu biasanya dipakai pada perkara yang baik, dan terkadang dipakai dalam perkara yang buruk dengan syarat, seperti dalam ayat ini, Allah berfirman, ﴾ بَشِّرِ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Kabarkanlah kepada orang-orang munafik," yaitu orang-orang yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran dengan kabar yang paling jelek dan paling buruk, yaitu azab yang pedih. Yang demikian itu karena mereka mencintai orang-orang kafir dan menolong mereka, membela mereka serta meninggalkan cinta dan kasih sayang kepada kaum Mukminin, perkara apakah yang mendorong mereka melakukan hal tersebut? Apakah mereka mengharapkan kemuliaan dari orang-orang kafir itu? Seperti inilah kenyataan dari orang-orang munafik, prasangka mereka buruk terhadap Allah, keyakinan mereka lemah terhadap pertolongan Allah kepada kaum Mukminin, dan mereka menyaksikan beberapa faktor pendorong pada kaum kafir namun pandangan mereka pendek tentang akibat yang terjadi di balik itu, hingga membuat mereka menjadikan kaum kafir sebagai penolong yang mereka banggakan dan meminta pertolongan mereka. Padahal kenyataan-nya adalah seluruh kemuliaan itu adalah milik Allah, dan sesung-guhnya ubun-ubun para hamba ada di tangan Allah dan kehen-dakNya pastilah terlaksana pada mereka. Dan sesungguhnya Allah telah menjamin untuk membela agamaNya dan hamba-hambaNya yang beriman, walaupun diselingi dengan beberapa ujian dan cobaan bagi hamba-hambaNya yang beriman tersebut dan musuh berkuasa atas mereka dengan penguasaan yang bersifat sementara, karena sesungguhnya hasil akhir yang baik dan kebahagian itu adalah milik kaum Mukminin. Ayat ini mengandung ancaman yang besar atas tindakan menjadikan kaum kafir sebagai penolong dan pembela, dan me-ninggalkan kaum Mukminin dalam perkara tersebut, dan bahwa hal seperti itu adalah di antara sifat-sifat kaum munafik, dan bahwa keimanan itu menuntut untuk mencintai kaum Mukminin dan menjadikan mereka sebagai penolong dan pembela, dan membenci kaum kafir dan memusuhi mereka.

An-Nisaa 4:139Listen in Qur'an →
140

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلْكِتَٰبِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا۟ مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦٓ ۚ إِنَّكُمْ إِذًۭا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْكَٰفِرِينَ فِى جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,

"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepadamu di dalam al-Qur`an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah di-ingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka mema-suki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesung-guhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam, (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang Mukmin). Maka jika terjadi kemenangan bagimu dari Allah, mereka berkata, 'Bukankah kami (turut berperang) be-serta kamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan, mereka berkata, 'Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang Mukmin?' Maka Allah akan mem-beri keputusan di antara kamu di Hari Kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (An-Nisa`: 140-141).

(140) Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan kepada kalian tentang apa yang turun kepada kalian berupa hukum syariat saat hadir pada majelis-majelis kekufuran dan kemaksiatan,﴾ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا ﴿ "bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir)" maksudnya, direndah-kan, yang demikian itu adalah karena yang wajib atas setiap orang yang mukallaf adalah beriman kepada ayat-ayat Allah, meng-agungkan, memuliakan, dan menyeganinya. Dan itulah maksud dari diturunkannya ayat-ayat tersebut, dan demi hal itu juga Allah menciptakan para makhluk. Lawan dari beriman adalah kufur kepadanya, dan lawan dari mengagungkannya adalah mengolok-olok dan menghinanya, dan termasuk dalam hal itu, berdebat dengan orang-orang kafir dan orang-orang munafik demi mema-tahkan ayat-ayat Allah dan membela kekufuran mereka. Demikian juga dengan ahli bid'ah dengan berbagai macam kelompok mereka. Sesungguhnya berhujjah demi kebatilan mereka mengandung makna pelecehan kepada ayat-ayat Allah, karena ayat-ayat tersebut tidaklah menunjukkan kecuali kepada kebenaran dan tidak ber-maksud kecuali kepada kebenaran, bahkan termasuk juga dalam hal ini menghadiri majelis-majelis kemaksiatan dan kefasikan di mana perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya dilecehkan di dalamnya dan hukum-hukumNya yang ditetapkan buat hamba-hambaNya dipermainkan. Puncak dari hal ini adalah larangan du-duk-duduk bersama mereka, ﴾ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ ﴿ "sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain," yaitu selain dari (pembicaraan) kufur terhadap ayat-ayat Allah dan menghinakannya. ﴾ إِنَّكُمۡ إِذٗا ﴿ "Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian)," yaitu, apabila kalian duduk bersama mereka pada kondisi yang disebutkan, ﴾ مِّثۡلُهُمۡۗ ﴿ "tentulah kamu serupa dengan mereka," karena kalian ridha dengan kekufuran dan penghinaan mereka itu. Seorang yang ridha terhadap kemaksiatan adalah seperti pelaku kemak-siatan itu sendiri. Intinya adalah bahwa barangsiapa yang hadir pada suatu majelis di mana dalam majelis tersebut Allah didurha-kai, maka wajib 'ain untuk diingkari bila …

An-Nisaa 4:140Listen in Qur'an →

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.