Muslim99Muslim99
← Tafsir library

7. Al-A'raaf

The Heights · Meccan · 206 ayahs

سُورَةُ الأَعۡرَافِ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 201–206 of 206

201

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌۭ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlin-dunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (Al-A'raf: 200-202).

(200) Yakni kapan pun dan dalam kondisi apa pun, ﴾ يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ ﴿ "kamu ditimpa sesuatu godaan setan." Yakni kamu mera-sakan godaannya, membuatmu malas berbuat baik atau mendorong-mu dan memacumu berbuat buruk, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ ﴿ "maka berlindunglah kepada Allah." Yakni berlindunglah kepada naungan perlindungan Allah, karena Dia Maha Mendengar apa yang kamu ucapkan. ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "Mengetahui" niatmu, kelemahanmu, dan kebutuhanmu akan per-lindunganNya, maka Dia akan melindungimu dari fitnahnya dan menjagamu dari godaannya, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ 1 مَلِكِ ٱلنَّاسِ 2 إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ 3 مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ 4 ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ 5 مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ 6 ﴿ "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (An-Nas: 1-6).

(201) Karena hamba pasti lalai dan setan berhasil menipu-nya karena ia terus bersiap siaga menantikan kelengahan dan ke-lalaiannya, maka Allah تعالى menyebutkan tanda-tanda orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menyimpang. Adapun orang yang bertakwa, jika dia merasakan dosa dan gangguan dari setan, lalu dia melakukan dosa, dengan melakukan yang haram atau me-ninggalkan yang wajib, maka dia segera sadar dari mana setan da-tang dan dari pintu mana setan masuk kepadanya, dia menyadari apa yang diwajibkan Allah atasnya dan apa yang menjadi tuntutan iman, maka dia memohon ampun kepada Allah, dia menambal apa yang terlewatkan dengan taubat nasuha dan kebaikan yang banyak, maka dia berhasil mengusir setannya dengan hina dina dan mem-porak porandakan apa yang setan dapatkan darinya.

(202) Adapun teman-teman dan wali-wali setan, maka me-reka apabila terjatuh ke dalam dosa, mereka terus berada di dalam kesesatan. Mereka melakukan satu dosa kepada dosa yang lain. Bahkan tidak hanya sebatas itu, setan tiada henti-hentinya menye-satkan, karena ia berambisi kepada mereka manakala mereka adalah orang-orang yang mudah dikendalikan dan tiada henti melakukan perbuatan jahat.

Al-A'raaf 7:201Listen in Qur'an →
202

وَإِخْوَٰنُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِى ٱلْغَىِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlin-dunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (Al-A'raf: 200-202).

(200) Yakni kapan pun dan dalam kondisi apa pun, ﴾ يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ نَزۡغٞ ﴿ "kamu ditimpa sesuatu godaan setan." Yakni kamu mera-sakan godaannya, membuatmu malas berbuat baik atau mendorong-mu dan memacumu berbuat buruk, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۚ ﴿ "maka berlindunglah kepada Allah." Yakni berlindunglah kepada naungan perlindungan Allah, karena Dia Maha Mendengar apa yang kamu ucapkan. ﴾ عَلِيمٌ ﴿ "Mengetahui" niatmu, kelemahanmu, dan kebutuhanmu akan per-lindunganNya, maka Dia akan melindungimu dari fitnahnya dan menjagamu dari godaannya, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ 1 مَلِكِ ٱلنَّاسِ 2 إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ 3 مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ 4 ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ 5 مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ 6 ﴿ "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (An-Nas: 1-6).

(201) Karena hamba pasti lalai dan setan berhasil menipu-nya karena ia terus bersiap siaga menantikan kelengahan dan ke-lalaiannya, maka Allah تعالى menyebutkan tanda-tanda orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang menyimpang. Adapun orang yang bertakwa, jika dia merasakan dosa dan gangguan dari setan, lalu dia melakukan dosa, dengan melakukan yang haram atau me-ninggalkan yang wajib, maka dia segera sadar dari mana setan da-tang dan dari pintu mana setan masuk kepadanya, dia menyadari apa yang diwajibkan Allah atasnya dan apa yang menjadi tuntutan iman, maka dia memohon ampun kepada Allah, dia menambal apa yang terlewatkan dengan taubat nasuha dan kebaikan yang banyak, maka dia berhasil mengusir setannya dengan hina dina dan mem-porak porandakan apa yang setan dapatkan darinya.

(202) Adapun teman-teman dan wali-wali setan, maka me-reka apabila terjatuh ke dalam dosa, mereka terus berada di dalam kesesatan. Mereka melakukan satu dosa kepada dosa yang lain. Bahkan tidak hanya sebatas itu, setan tiada henti-hentinya menye-satkan, karena ia berambisi kepada mereka manakala mereka adalah orang-orang yang mudah dikendalikan dan tiada henti melakukan perbuatan jahat.

Al-A'raaf 7:202Listen in Qur'an →
203

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِم بِـَٔايَةٍۢ قَالُوا۟ لَوْلَا ٱجْتَبَيْتَهَا ۚ قُلْ إِنَّمَآ أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ مِن رَّبِّى ۚ هَٰذَا بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّقَوْمٍۢ يُؤْمِنُونَ

Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".

"Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat al-Qur`an kepada mereka, mereka berkata, 'Mengapa tidak kamu buat sen-diri ayat itu?' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan dari Rabbku kepadaku. Al-Qur`an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Rabbmu, petunjuk dan rah-mat bagi orang-orang yang beriman." (Al-A'raf: 203).

(203) Yakni, orang-orang yang mendustakanmu itu senan-tiasa berada di dalam kesombongan dan pengingkaran, meskipun kamu hadir kepada mereka dengan ayat-ayat yang membuktikan hidayah dan jalan lurus. Jika kamu membawa ayat kepada mereka yang menunjukkan kebenaranmu, maka mereka tidak akan tunduk. ﴾ وَإِذَا لَمۡ تَأۡتِهِم بِـَٔايَةٖ ﴿ "Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat", dari ayat-ayat yang mereka usulkan dan tentukan, ﴾ قَالُواْ لَوۡلَا ٱجۡتَبَيۡتَهَاۚ ﴿ "mereka berkata, 'Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?'" Yakni mengapa kamu tidak memilih-milih (suatu kalimat yang bisa dijadikan se-bagai) ayat, sehingga ia pun menjadi ayat atau mukjizat tertentu, seolah-olah kamulah yang menurunkan ayat yang mengatur selu-ruh makhluk. Padahal sebenarnya sedikit pun kamu tidak memiliki urusan apa pun dalam hal ini. Atau (maknanya) adalah, mengapa kamu tidak membuatnya sendiri dari dirimu. ﴾ قُلۡ إِنَّمَآ أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيَّ مِن رَّبِّيۚ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan dari Rabbku kepadaku'." Aku hanyalah seorang hamba yang meng-ikuti lagi diatur, Allah تعالى-lah yang menurunkan ayat dan mengi-rimkannya sesuai dengan tuntutan kebesaranNya dan hikmahNya yang agung. Jika kamu menginginkan ayat yang tidak tergusur oleh waktu dan hujjah yang tidak luruh dalam segala kesempatan maka ayat tersebut adalah al-Qur`an yang agung yang merupakan dzikir yang penuh hikmah. ﴾ بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمۡ ﴿ "Al-Qur`an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Rabbmu", yang dijadikan sebagai penerang dalam seluruh tuntutan ilahiyah dan tujuan insaniyah. Ia adalah dalil dan bukti. Barang-siapa yang merenungkan dan memikirkannya, maka dia mengeta-hui bahwa ia turun dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Mahamulia, tiada kebatilan yang hadir dari depannya atau dari belakangnya. Dengannya hujjah menjadi tegak atas semua orang yang menge-tahuinya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman, karena barangsiapa yang beriman maka ia adalah ﴾ وَهُدٗى ﴿ "petunjuk", bagi-nya dari kesesatan ﴾ وَرَحۡمَةٞ ﴿ "dan rahmat", baginya dari kesengsaraan. Seorang Mukmin yang mengikuti al-Qur`an dan mengambil petun-juk darinya, dia akan berbahagia di dunia dan akhiratnya. Adapun orang yang tidak beriman kepadanya, maka dia akan sesat dan sengsara di dunia dan akhirat.

Al-A'raaf 7:203Listen in Qur'an →
204

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

"Dan apabila dibacakan al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu menda-pat rahmat." (Al-A'raf: 204).

(204) Perintah ini berlaku umum bagi semua orang yang mendengar al-Qur`an, kitabullah dibaca, dia diperintahkan untuk diam dan mendengarkan. Dan perbedaan di antara keduanya ada­lah bahwa diam secara zahir adalah dengan meninggalkan pembi-caraan atau tidak menyibukkan diri dengan sesuatu yang membuat-nya tidak mendengar. Adapun mendengar, maka maksudnya ada-lah menyimak dengan membuka hati dan merenungkan apa yang didengar. Barangsiapa yang memegang kedua perkara ini ketika kitabullah dibaca, maka dia akan mendapatkan kebaikan yang ba-nyak, ilmu yang melimpah, iman yang terus diperbarui, petunjuk yang selalu bertambah, dan bashirah dalam agamanya. Oleh karena itu Allah mengaitkan diraihnya rahmat dengan kedua perkara ter-sebut. Hal ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang dibacakan al-Qur`an kepadanya, lalu dia tidak mendengar dan tidak diam, maka dia tidak akan meraih bagian rahmat, dan dia telah kehila-ngan kebaikan yang melimpah. Di antara perintah yang ditekankan kepada pendengar al-Qur`an adalah hendaknya dia mendengarkan dan diam untuknya dalam shalat jahriyah ketika imamnya membaca al-Qur`an, dalam kondisi ini dia diperintahkan untuk diam, bahkan kebanyakan ulama berkata bahwa diamnya adalah lebih baik daripada dia mem-baca al-Fatihah atau lainnya.

Al-A'raaf 7:204Listen in Qur'an →
205

وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًۭا وَخِيفَةًۭ وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

"Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan me-rendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNya-lah me-reka bersujud." (Al-A'raf: 205-206).

(205) Dzikir kepada Allah تعالى bisa dengan hati, bisa dengan lisan, bisa dengan keduanya, dan ia adalah bentuk dzikir yang paling sempurna. Allah memerintahkan hamba dan RasulNya Muhammad dan orang-orang yang mengikutinya agar mengingat Allah pada dirinya, yakni dengan ikhlas dan dalam keadaan sendiri, ﴾ تَضَرُّعٗا ﴿ "dengan merendahkan diri", dengan lisanmu, mengulang-ulang ma-cam-macam dzikir, ﴾ وَخِيفَةٗ ﴿ "dan rasa takut", di dalam hatimu, di mana kamu takut kepada Allah, hatimu khawatir dan cemas terha-dap amalmu yang mungkin tidak diterima. Bukti rasa takut terse-but adalah kesungguhan dan keseriusan dalam menyempurnakan, memperbaiki dan mengikhlaskan amal. ﴾ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Dan de-ngan tidak mengeraskan suara." Yakni ambillah jalan tengah. Jangan-lah kamu mengeraskan doamu dan jangan pula menyamarkannya, dan carilah jalan tengah di antara itu. ﴾ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ ﴿ "Di waktu pagi dan petang." Dua waktu ini memiliki keistimewaan dan keutamaan untuk berdzikir kepada Allah. ﴾ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." Yaitu orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang diharamkan untuk mendapat-kan kebaikan dunia dan akhirat. Mereka berpaling dari Dzat di mana kebahagiaan dan keberuntungan didapat dengan mengingatNya dan beribadah kepadaNya, dan justru menghadap kepada sesuatu di mana kerugian dan kesengsaraan adalah karena menyibukkan diri dengannya. Ini termasuk adab yang semestinya dijaga oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya, yaitu memperbanyak dzikrullah di siang dan malam hari, khususnya di awal dan akhir siang, dengan ikhlas, khusyu', merendahkan diri, menundukkan diri, tenang, hati dan lisannya saling mendukung dengan penuh adab, ketenangan, dan berkonsentrasi kepada doa dan dzikir, serta hati yang fokus kepa-danya, dan tidak lalai darinya, karena Allah tidak menerima doa dari hati yang kosong lagi lalai.

(206) Kemudian Allah تعالى menyebutkan bahwa Dia memi-liki hamba-hamba yang selalu beribadah kepadaNya dan melaya-niNya, yaitu para malaikat. Ketahuilah bahwa Allah tidak ingin memperkaya diri dengan ibadahmu karena kemiskinan dan tidak pula memuliakan diri dari kehinaan. Akan tetapi Dia ingin mem-berimu manfaat dan agar kamu beruntung dengan keberuntungan yang berlipat ganda atas apa yang kamu kerjakan. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabb-mu", para malaikat yang dekat dan para pengusung Arasy yang setia, ﴾ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ ﴿ "tidaklah merasa enggan menyembah Allah." Bahkan mereka menundukkan diri kepadaNya dan menaati segala perintah Rabb mereka. ﴾ وَيُسَبِّحُونَهُۥ ﴿ "dan mereka mentasbihkanNya", di siang dan …

Al-A'raaf 7:205Listen in Qur'an →
206

إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِۦ وَيُسَبِّحُونَهُۥ وَلَهُۥ يَسْجُدُونَ ۩

Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.

"Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan me-rendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabbmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNya-lah me-reka bersujud." (Al-A'raf: 205-206).

(205) Dzikir kepada Allah تعالى bisa dengan hati, bisa dengan lisan, bisa dengan keduanya, dan ia adalah bentuk dzikir yang paling sempurna. Allah memerintahkan hamba dan RasulNya Muhammad dan orang-orang yang mengikutinya agar mengingat Allah pada dirinya, yakni dengan ikhlas dan dalam keadaan sendiri, ﴾ تَضَرُّعٗا ﴿ "dengan merendahkan diri", dengan lisanmu, mengulang-ulang ma-cam-macam dzikir, ﴾ وَخِيفَةٗ ﴿ "dan rasa takut", di dalam hatimu, di mana kamu takut kepada Allah, hatimu khawatir dan cemas terha-dap amalmu yang mungkin tidak diterima. Bukti rasa takut terse-but adalah kesungguhan dan keseriusan dalam menyempurnakan, memperbaiki dan mengikhlaskan amal. ﴾ وَدُونَ ٱلۡجَهۡرِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Dan de-ngan tidak mengeraskan suara." Yakni ambillah jalan tengah. Jangan-lah kamu mengeraskan doamu dan jangan pula menyamarkannya, dan carilah jalan tengah di antara itu. ﴾ بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ ﴿ "Di waktu pagi dan petang." Dua waktu ini memiliki keistimewaan dan keutamaan untuk berdzikir kepada Allah. ﴾ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." Yaitu orang-orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itu adalah orang-orang yang diharamkan untuk mendapat-kan kebaikan dunia dan akhirat. Mereka berpaling dari Dzat di mana kebahagiaan dan keberuntungan didapat dengan mengingatNya dan beribadah kepadaNya, dan justru menghadap kepada sesuatu di mana kerugian dan kesengsaraan adalah karena menyibukkan diri dengannya. Ini termasuk adab yang semestinya dijaga oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya, yaitu memperbanyak dzikrullah di siang dan malam hari, khususnya di awal dan akhir siang, dengan ikhlas, khusyu', merendahkan diri, menundukkan diri, tenang, hati dan lisannya saling mendukung dengan penuh adab, ketenangan, dan berkonsentrasi kepada doa dan dzikir, serta hati yang fokus kepa-danya, dan tidak lalai darinya, karena Allah tidak menerima doa dari hati yang kosong lagi lalai.

(206) Kemudian Allah تعالى menyebutkan bahwa Dia memi-liki hamba-hamba yang selalu beribadah kepadaNya dan melaya-niNya, yaitu para malaikat. Ketahuilah bahwa Allah tidak ingin memperkaya diri dengan ibadahmu karena kemiskinan dan tidak pula memuliakan diri dari kehinaan. Akan tetapi Dia ingin mem-berimu manfaat dan agar kamu beruntung dengan keberuntungan yang berlipat ganda atas apa yang kamu kerjakan. Dia berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Rabb-mu", para malaikat yang dekat dan para pengusung Arasy yang setia, ﴾ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ ﴿ "tidaklah merasa enggan menyembah Allah." Bahkan mereka menundukkan diri kepadaNya dan menaati segala perintah Rabb mereka. ﴾ وَيُسَبِّحُونَهُۥ ﴿ "dan mereka mentasbihkanNya", di siang dan …

Al-A'raaf 7:206Listen in Qur'an →

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.