Muslim99Muslim99
← Tafsir library

2. Al-Baqara

The Cow · Medinan · 286 ayahs

سُورَةُ البَقَرَةِ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 141–150 of 286

141

تِلْكَ أُمَّةٌۭ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْـَٔلُونَ عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.

"Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusaha-kannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." (Al-Baqarah: 141).

(141) Telah berlalu tafsir ayat tersebut. Dan Allah meng-ulang ayat ini untuk memupuskan adanya ketergantungan kepada makhluk, dan bahwasanya yang menjadi sandaran adalah apa yang menjadi sifat manusia itu, bukan dari perbuatan para pendahulu dan nenek moyangnya. Maka manfaat yang sebenarnya adalah dengan perbuatan, bukan dengan sebatas penisbatan diri kepada orang.

Al-Baqara 2:141Listen in Qur'an →
142

۞ سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ ٱلَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ

Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus".

"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…." (Al-Baqarah: 142-143).

(142) Ayat pertama meliputi mukjizat dan hiburan serta menenangkan hati kaum Mukminin, juga sebuah bantahan beserta jawabannya dari tiga faktor, dan sifat orang-orang yang memban-tah serta sifat orang-orang yang menerima hukum Allah sebagai agamanya. Allah تعالى memberikan kabar bahwasanya orang-orang bodoh di antara manusia akan membantah, yaitu mereka yang tidak mengenal kemaslahatan bagi diri mereka sendiri, bahkan mereka menyia-nyiakannya dan menukarnya dengan harga yang paling rendah, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang semisal dengan mereka dari orang-orang yang suka membantah hukum-hukum Allah dan syariat-syariatNya. Yang demikian itu karena kaum Muslimin diperintahkan untuk meng-hadap ke Baitul Maqdis selama mereka menetap di Makkah, kemu-dian setelah hijrah ke Madinah kira-kira satu tahun setengah lama-nya; karena Allah memiliki hikmah-hikmah di balik itu semua yang akan disebutkan sebagiannya, dan hikmahNya menuntut adanya perintah kepada mereka untuk menghadap ke Ka'bah. Lalu Allah mengabarkan kepada mereka bahwa orang-orang bodoh di antara manusia itu pasti akan berkata,﴾ مَا وَلَّىٰهُمۡ عَن قِبۡلَتِهِمُ ٱلَّتِي كَانُواْ عَلَيۡهَاۚ ﴿ "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya," yakni, menghadap Baitul Maqdis, maksudnya apa yang menyebabkan mereka berpaling darinya? Hal ini adalah sebuah bantahan terha-dap hukum Allah, syariat, karunia, dan kebaikanNya. Maka Allah menghibur mereka dan Dia mengabarkan tentang kejadiannya serta hal seperti itu hanya terjadi dari orang-orang bodoh yang sedikit akal, sedikit keramahan, dan miskin agama. Maka janganlah kalian mempedulikan mereka karena telah diketahui sumber perkataan itu. Orang yang berakal tidaklah akan mempedulikan ocehan orang bodoh dan tidak mengambil pusing tentangnya. Ayat ini menunjukkan bahwa tidaklah akan membantah terhadap hukum-hukum Allah kecuali orang bodoh, dungu, dan pembangkang. Sedangkan orang yang berakal, lagi beriman dan pandai, pastilah akan menerima hukum-hukum Allah dengan kepasrahan, ketundukan, serta kepatuhan, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ ﴿ "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah mene-tapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (Al-Ahzab: 36), dan juga Firman Allah, ﴾ فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Maka demi Tuhanmu, mereka …

Al-Baqara 2:142Listen in Qur'an →
143

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةًۭ وَسَطًۭا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًۭا ۗ وَمَا جَعَلْنَا ٱلْقِبْلَةَ ٱلَّتِى كُنتَ عَلَيْهَآ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ ٱلرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…." (Al-Baqarah: 142-143).

(142) Ayat pertama meliputi mukjizat dan hiburan serta menenangkan hati kaum Mukminin, juga sebuah bantahan beserta jawabannya dari tiga faktor, dan sifat orang-orang yang memban-tah serta sifat orang-orang yang menerima hukum Allah sebagai agamanya. Allah تعالى memberikan kabar bahwasanya orang-orang bodoh di antara manusia akan membantah, yaitu mereka yang tidak mengenal kemaslahatan bagi diri mereka sendiri, bahkan mereka menyia-nyiakannya dan menukarnya dengan harga yang paling rendah, mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang semisal dengan mereka dari orang-orang yang suka membantah hukum-hukum Allah dan syariat-syariatNya. Yang demikian itu karena kaum Muslimin diperintahkan untuk meng-hadap ke Baitul Maqdis selama mereka menetap di Makkah, kemu-dian setelah hijrah ke Madinah kira-kira satu tahun setengah lama-nya; karena Allah memiliki hikmah-hikmah di balik itu semua yang akan disebutkan sebagiannya, dan hikmahNya menuntut adanya perintah kepada mereka untuk menghadap ke Ka'bah. Lalu Allah mengabarkan kepada mereka bahwa orang-orang bodoh di antara manusia itu pasti akan berkata,﴾ مَا وَلَّىٰهُمۡ عَن قِبۡلَتِهِمُ ٱلَّتِي كَانُواْ عَلَيۡهَاۚ ﴿ "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya," yakni, menghadap Baitul Maqdis, maksudnya apa yang menyebabkan mereka berpaling darinya? Hal ini adalah sebuah bantahan terha-dap hukum Allah, syariat, karunia, dan kebaikanNya. Maka Allah menghibur mereka dan Dia mengabarkan tentang kejadiannya serta hal seperti itu hanya terjadi dari orang-orang bodoh yang sedikit akal, sedikit keramahan, dan miskin agama. Maka janganlah kalian mempedulikan mereka karena telah diketahui sumber perkataan itu. Orang yang berakal tidaklah akan mempedulikan ocehan orang bodoh dan tidak mengambil pusing tentangnya. Ayat ini menunjukkan bahwa tidaklah akan membantah terhadap hukum-hukum Allah kecuali orang bodoh, dungu, dan pembangkang. Sedangkan orang yang berakal, lagi beriman dan pandai, pastilah akan menerima hukum-hukum Allah dengan kepasrahan, ketundukan, serta kepatuhan, sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ ﴿ "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah mene-tapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (Al-Ahzab: 36), dan juga Firman Allah, ﴾ فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Maka demi Tuhanmu, mereka …

Al-Baqara 2:143Listen in Qur'an →
144

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةًۭ تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al-Ba-qarah: 144).

(144) Allah تعالى berfirman kepada NabiNya, ﴾ قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu (Muhammad) me-nengadah ke langit," maksudnya, beliau seringkali melakukan hal itu berulang-ulang dengan rasa harap dan menunggu turunnya wahyu tentang menghadap ke Ka'bah. Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجۡهِكَ ﴿ "Mukamu," dan bukan dengan matamu adalah untuk menambah perhatiannya, dan karena pembalikan wajah secara pasti diikuti dengan pembalikan mata. ﴾ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ ﴿ "Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu," maksudnya, Kami akan mengarahkan kamu karena kekuasaan Kami terhadapmu, ﴾ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ ﴿ "ke kiblat yang kamu sukai," maksudnya, yang kamu senangi yaitu Ka'bah. Ini me-rupakan suatu penjelasan akan keutamaan dan kemuliaan beliau ﷺ, di mana Allah تعالى bersegera dalam memenuhi keinginan beliau, kemudian Allah menegaskan tentang menghadap ke arah Ka'bah. Allah تعالى berfirman, ﴾ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ ﴿ "Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram." Muka adalah suatu bagian yang terdepan dari tubuh manusia. ﴾ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ ﴿ "Dan di mana saja kamu berada," yaitu di lautan atau daratan, timur atau barat, selatan atau utara, ﴾ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ ﴿ "maka palingkanlah mukamu ke arahnya," mak-sudnya, menghadap kepada arah Ka'bah. Di dalam ayat ini terdapat kandungan disyaratkannya meng-hadap kiblat dalam menjalankan setiap shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah. Apabila memungkinkan menghadap kepada dzat Ka'bah tersebut, (maka wajib menghadap fisik Ka'bah), namun bila tidak memungkinkan, maka ke arahnya saja. Dan ini juga me-nunjukkan bahwa berpaling dengan badan itu membatalkan shalat, karena perintah kepada sesuatu itu berarti larangan dari perkara yang berlawanan dengannya. Ketika Allah تعالى menyebutkan -dalam pembahasan tadi- orang-orang yang membantah hal tersebut dari ahli Kitab dan selain me-reka dan Allah تعالى juga menyebutkan tentang jawaban atas bantahan mereka itu, lalu Allah dalam ayat ini menyebutkan bahwasanya ahli Kitab dan orang-orang yang berilmu di antara mereka menge-tahui dengan benar bahwasanya engkau berada dalam kebenaran yang jelas, karena mereka mendapatkannya ada di dalam kitab mereka, akan tetapi mereka berpaling karena membangkang dan zhalim. Apabila mereka mengetahui akan kesalahan mereka, jangan-lah kalian mempedulikan hal itu, karena sesungguhnya manusia akan dipusingkan oleh suatu bantahan dari orang yang memban-tahnya apabila perkaranya tidaklah jelas dan kemungkinan saja yang benar itu ada padanya, namun apabila dia yakin bahwa kebenaran itu ada bersama orang yang dibantah, sedangkan orang yang membantah itu hanyalah seorang …

Al-Baqara 2:144Listen in Qur'an →
145

وَلَئِنْ أَتَيْتَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ بِكُلِّ ءَايَةٍۢ مَّا تَبِعُوا۟ قِبْلَتَكَ ۚ وَمَآ أَنتَ بِتَابِعٍۢ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُم بِتَابِعٍۢ قِبْلَةَ بَعْضٍۢ ۚ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًۭا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu -- kalau begitu -- termasuk golongan orang-orang yang zalim.

"Dan sungguh jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sungguh jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 145).

(145) Di antara semangat Nabi Muhammad ﷺ yang besar dalam menyampaikan hidayah kepada manusia adalah, beliau mengerahkan segala daya dan upaya untuk mereka dari nasihat dan lemah lembut dalam memberi hidayah kepada mereka, beliau sangat sedih bila mereka tidak tunduk kepada perintah Allah. Di antara kaum kafir ada yang membangkang terhadap perintah Allah, berlaku sombong terhadap Rasul-rasul Allah dan meninggalkan hidayah dengan sengaja dan melampaui batas; di antara mereka itu ada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, yaitu ahli kitab pertama yang mengingkari Nabi Muhammad ﷺ dengan keyakinan, bukan dengan kebodohan. Oleh karena itu Allah تعالى mengabarkan bahwasanya sekiranya, ﴾ أَتَيۡتَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ بِكُلِّ ءَايَةٖ ﴿ "kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan)," maksudnya, dengan segala bukti nyata dan dalil yang menjelaskan perkataan-mu dan menerangkan apa yang kamu dakwahkan kepadanya,﴾ مَّا تَبِعُواْ قِبۡلَتَكَۚ ﴿ "mereka tidak akan mengikuti kiblatmu," maksudnya, mereka tidak akan mengikutimu; karena mengikuti dalam hal kiblat me-nunjukkan akan ketundukan kepada beliau, dan karena sebabnya adalah dalam perkara kiblat, dan perkara tersebut bisa seperti itu adalah karena mereka durhaka, di mana mereka telah mengetahui kebenaran namun mereka meninggalkannya, maka ayat-ayat itu hanya akan bermanfaat bagi orang yang mencari kebenaran, namun perkaranya samar menurutnya, maka ayat-ayat yang jelas akan (berfungsi) menerangkan untuknya. Adapun orang yang telah bertekad untuk tidak mengikuti kebenaran, maka tidak ada alasan lagi baginya, dan juga perpecah-an di antara mereka benar-benar terjadi, di mana sebagian mereka tidak mengikuti kiblat sebagian yang lain. Oleh karena itu, bukan-lah suatu hal yang aneh, apabila mereka tidak mengikuti kiblatmu wahai Muhammad ﷺ, dan mereka itu adalah musuh yang benar-benar dengki. FirmanNya, ﴾ وَمَآ أَنتَ بِتَابِعٖ قِبۡلَتَهُمۡۚ ﴿ "Dan kamu pun tidak akan meng-ikuti kiblat mereka," ini lebih mantap daripada kalimat "janganlah kamu mengikuti," karena hal itu mengandung suatu dugaan bahwa Muhammad ﷺ memiliki sifat tampil beda dengan mereka, maka hal itu tidaklah mungkin terjadi dari beliau. Allah juga tidak ber-firman "sekiranya didatangkan kepada mereka setiap ayat," karena mereka tidak memiliki dalil atas apa yang mereka katakan. Demi-kian juga apabila telah jelas kebenaran itu dengan dalil-dalilnya yang yakin, maka tidaklah harus menjawab hal yang syubhat yang muncul darinya, karena dia tidak memiliki batas dan juga karena dia mengetahui kebatilannya, atas dasar pengetahuan bahwa setiap yang bertentangan dengan kebenaran yang jelas itu …

Al-Baqara 2:145Listen in Qur'an →
146

ٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَٰهُمُ ٱلْكِتَٰبَ يَعْرِفُونَهُۥ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًۭا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ ٱلْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka me-ngetahui. Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (Al-Baqarah: 146-147).

(146) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya ahli kitab itu telah jelas bagi mereka dan telah mereka ketahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ itu adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau itu adalah haq dan benar. Bahkan mereka sangat yakin akan hal itu sebagaimana mereka yakin terhadap anak-anak mereka, di mana mereka tidak mungkin saling tertukar dengan anak-anak yang lain. Oleh karena itu pengetahuan mereka tentang Nabi Muhammad ﷺ telah sampai pada batas tidak ada keraguan dan tidak ada perde-batan padanya. Akan tetapi kelompok mayoritas di antara mereka mengingkari beliau, mereka menyembunyikan kesaksian yang meyakinkan tersebut padahal mereka mengetahuinya. Maka siapa-kah yang lebih zhalim dari orang yang menyembunyikan kesaksian dari sisi Allah? Termasuk dalam kandungan ayat ini adalah hiburan bagi Rasulullah ﷺ dan kaum Mukminin, juga peringatan untuk mereka dari kejahatan orang-orang kafir dan syubhat mereka. Namun ada sekelompok dari mereka yang tidak menyembunyikan kebenaran tersebut dan mereka mengetahui hal itu, dan di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang tetap kafir kepadanya karena kebodohan. Seorang yang berilmu wajib memperlihatkan kebenaran, menjelaskan, dan menghiasinya dengan segala yang mampu dia lakukan dari penjelasan kalimat, pengungkapan keterangan, contoh, dan lain sebagainya. Dan wajib baginya mengingkari kebatilan, membedakannya dari kebenaran, dan menjadikannya dibenci oleh jiwa dengan segala cara yang menyampaikan kepada hal tersebut. Dan oleh karena orang-orang yang telah menyembunyikan kebe-naran tersebut telah berlaku kebalikan dari yang seharusnya, maka kondisi mereka pun terimbas dengannya.

(147) ﴾ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu," mak-sudnya, kebenaran ini adalah yang paling benar untuk dinamakan sebagai kebenaran dari segala sesuatu, karena apa yang ia kandung dari cita-cita yang tinggi, perintah-perintah yang baik, penyucian jiwa, mengajaknya kepada hal-hal yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat adalah bersumber dari Tuhanmu, dan yang termasuk dalam bimbinganNya bagimu adalah bahwa Dia menu-runkan kepadamu al-Qur`an yang berisi pendidikan bagi akal, jiwa dan segala kemaslahatan. ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ﴿ "Sebab itu janganlah se-kali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu," yakni, jangan sampai ada sedikit saja keraguan dan kebimbangan darimu, akan tetapi renungkan dan pikirkanlah hal itu hingga kamu sampai kepada keyakinan, karena berpikir tentangnya sudah pasti akan menghi-langkan keraguan dan akan menyampaikan kepada keyakinan.

Al-Baqara 2:146Listen in Qur'an →
147

ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka me-ngetahui. Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (Al-Baqarah: 146-147).

(146) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya ahli kitab itu telah jelas bagi mereka dan telah mereka ketahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ itu adalah Rasulullah dan bahwa apa yang dibawa oleh beliau itu adalah haq dan benar. Bahkan mereka sangat yakin akan hal itu sebagaimana mereka yakin terhadap anak-anak mereka, di mana mereka tidak mungkin saling tertukar dengan anak-anak yang lain. Oleh karena itu pengetahuan mereka tentang Nabi Muhammad ﷺ telah sampai pada batas tidak ada keraguan dan tidak ada perde-batan padanya. Akan tetapi kelompok mayoritas di antara mereka mengingkari beliau, mereka menyembunyikan kesaksian yang meyakinkan tersebut padahal mereka mengetahuinya. Maka siapa-kah yang lebih zhalim dari orang yang menyembunyikan kesaksian dari sisi Allah? Termasuk dalam kandungan ayat ini adalah hiburan bagi Rasulullah ﷺ dan kaum Mukminin, juga peringatan untuk mereka dari kejahatan orang-orang kafir dan syubhat mereka. Namun ada sekelompok dari mereka yang tidak menyembunyikan kebenaran tersebut dan mereka mengetahui hal itu, dan di antara mereka ada yang beriman dan ada juga yang tetap kafir kepadanya karena kebodohan. Seorang yang berilmu wajib memperlihatkan kebenaran, menjelaskan, dan menghiasinya dengan segala yang mampu dia lakukan dari penjelasan kalimat, pengungkapan keterangan, contoh, dan lain sebagainya. Dan wajib baginya mengingkari kebatilan, membedakannya dari kebenaran, dan menjadikannya dibenci oleh jiwa dengan segala cara yang menyampaikan kepada hal tersebut. Dan oleh karena orang-orang yang telah menyembunyikan kebe-naran tersebut telah berlaku kebalikan dari yang seharusnya, maka kondisi mereka pun terimbas dengannya.

(147) ﴾ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu," mak-sudnya, kebenaran ini adalah yang paling benar untuk dinamakan sebagai kebenaran dari segala sesuatu, karena apa yang ia kandung dari cita-cita yang tinggi, perintah-perintah yang baik, penyucian jiwa, mengajaknya kepada hal-hal yang mendatangkan manfaat dan menolak mudarat adalah bersumber dari Tuhanmu, dan yang termasuk dalam bimbinganNya bagimu adalah bahwa Dia menu-runkan kepadamu al-Qur`an yang berisi pendidikan bagi akal, jiwa dan segala kemaslahatan. ﴾ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ﴿ "Sebab itu janganlah se-kali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu," yakni, jangan sampai ada sedikit saja keraguan dan kebimbangan darimu, akan tetapi renungkan dan pikirkanlah hal itu hingga kamu sampai kepada keyakinan, karena berpikir tentangnya sudah pasti akan menghi-langkan keraguan dan akan menyampaikan kepada keyakinan.

Al-Baqara 2:147Listen in Qur'an →
148

وَلِكُلٍّۢ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا۟ يَأْتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam mem-buat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada Hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 148).

(148) Maksudnya, setiap pemeluk suatu agama pasti memi-liki arah yang menjadi tujuan dalam menghadap ketika beribadah, dan masalahnya bukan menghadap kiblat, karena sesungguhnya dia adalah sebuah syariat di mana waktu dan kondisi bisa berubah, dan terkena hukum nasakh dan peralihan dari suatu arah ke arah yang lain, akan tetapi masalahnya adalah dalam menunaikan ke-taatan kepada Allah, mendekatkan diri kepadaNya, dan memohon derajat dariNya. Inilah tanda-tanda kebahagiaan dan kecintaan, yaitu suatu hal yang bila jiwa tidak bersifat dengannya, niscaya akan mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat, sebagaimana juga bila dia bersifat dengannya, maka itulah keuntungan yang sesungguhnya. Ini adalah suatu perkara yang telah disepakati dalam seluruh syariat, karena Allah menciptakan makhluk untuk hal itu dan Dia perintahkan kepadanya. Perintah untuk berlomba kepada kebaikan merupakan suatu yang lebih dari sekedar perintah untuk berbuat baik, karena berlomba berbuat kebaikan meliputi beberapa hal, yaitu dengan melakukannya, menyempurnakannya, dan menem-patkannya dalam bentuk yang paling sempurna, serta bersegera kepadanya. Barangsiapa yang berlomba kepada kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi pemenang di akhirat dengan surga, dan orang-orang yang terdepan dalam perlombaan adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya. Kebaikan itu meliputi segala hal yang diwajibkan dan yang disunnahkan, seperti Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Umrah dan Jihad serta memberikan manfaat secara luas maupun sempit. Ketika suatu hal yang paling mendorong jiwa untuk berlomba-lomba kepada kebaikan dan menggiatkannya adalah apa yang dijanjikan oleh Allah terhadapnya dari pahala, maka Allah berfirman,﴾ أَيۡنَ مَا تَكُونُواْ يَأۡتِ بِكُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada Hari Kiamat). Sesung-guhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," Allah akan mengumpul-kan kalian pada Hari Kiamat dengan kuasaNya, kemudian Allah akan membalas segala perbuatan setiap orang sesuai dengan per-buatannya, ﴾ لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى 31 ﴿ "Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." (An-Najm: 31). Ayat yang mulia ini dapat dijadikan dalil untuk mengadakan setiap hal yang mulia yang berkaitan dengan suatu perbuatan, seperti shalat pada awal waktu, bersegera dalam menunaikan ke-wajiban, seperti puasa, Haji, Umrah, mengeluarkan Zakat, menger-jakan sunnah-sunnah ibadah dan adab-adabnya. Sungguh hanya milik Allah sajalah ayat yang sangat lengkap dan paling berman-faat ini.

Al-Baqara 2:148Listen in Qur'an →
149

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُۥ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Dan darimana saja kamu keluar, maka palingkanlah Wajah-mu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabb. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajah-mu ke arahnya, agar tidak ada hujjah (alasan) bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Dan agar Aku sempurnakan nikmatKu atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 149-150).

(149) Maksudnya, ﴾ وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ ﴿ "Dan dari mana saja kamu keluar" dalam perjalananmu atau selainnya; dan ini bersifat umum, ﴾ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ ﴿ "maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram," maksudnya, menghadaplah kepadanya, kemudian Allah mengarahkan FirmanNya kepada seluruh umat secara umum,

(150) ﴾ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥ ﴿ "Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya," lalu Dia berfirman, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ ﴿ "Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabbmu." Allah menegaskan dengan huruf "inna" dan "lam," agar tidak terjadi syubhat yang terkecil sekalipun pada seseorang, dan agar dia tidak mengira bahwa itu hanyalah kesenangan belaka dan bukannya melaksanakan perintah. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan," akan tetapi Dia mengawasi kalian di segala kondisi kalian, maka berbuat baiklah kepadaNya dan cermatilah pengawasanNya dengan selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya, karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan kalian itu tidaklah dilalaikan, akan tetapi akan mendapatkan balasannya dengan balasan yang paling sem-purna; bila baik, maka baiklah balasannya, dan bila buruk, maka buruk pulalah balasannya. Allah تعالى kemudian berfirman, ﴾ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيۡكُمۡ حُجَّةٌ ﴿ "Agar tidak ada hujjah (alasan) bagi manusia atas kamu," maksudnya, Kami menetapkan bagi kalian untuk menghadap Ka'bah yang mulia, agar tidak ada bantahan dari ahli Kitab dan kaum musyrikin kepada kalian, karena seandainya kalian masih tetap menghadap ke Baitul Maqdis, niscaya hujjah itu akan terus ada, karena sesungguhnya ahli Kitab mendapatkan dalam kitab mereka bahwa kiblat mereka yang tetap adalah Ka'bah Baitul Haram, sedang kaum musyrikin memandang bahwa di antara kehormatan milik mereka adalah al-Baitul Haram tersebut, dan bahwa dia adalah dari ajaran Nabi Ibrahim عليه السلام. Bila Nabi Muhammad ﷺ tidak berkiblat ke arahnya, niscaya bantahan-bantahan mereka akan tertuju kepada beliau dengan berkata, Bagaimana dia mengaku menganut ajaran Nabi Ibrahim sedangkan dia termasuk keturunannya, namun dia me-ninggalkan menghadap kiblatnya? Oleh karena itu, dengan meng-hadap ke arah kiblat, maka tegaklah hujjah atas ahli kitab dan kaum musyrikin sekaligus serta lenyaplah bantahan mereka atas beliau ﷺ kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Artinya orang yang berhujjah …

Al-Baqara 2:149Listen in Qur'an →
150

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِى وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Dan darimana saja kamu keluar, maka palingkanlah Wajah-mu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabb. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajah-mu ke arahnya, agar tidak ada hujjah (alasan) bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaKu. Dan agar Aku sempurnakan nikmatKu atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 149-150).

(149) Maksudnya, ﴾ وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ ﴿ "Dan dari mana saja kamu keluar" dalam perjalananmu atau selainnya; dan ini bersifat umum, ﴾ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۖ ﴿ "maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram," maksudnya, menghadaplah kepadanya, kemudian Allah mengarahkan FirmanNya kepada seluruh umat secara umum,

(150) ﴾ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥ ﴿ "Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya," lalu Dia berfirman, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَۗ ﴿ "Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabbmu." Allah menegaskan dengan huruf "inna" dan "lam," agar tidak terjadi syubhat yang terkecil sekalipun pada seseorang, dan agar dia tidak mengira bahwa itu hanyalah kesenangan belaka dan bukannya melaksanakan perintah. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan," akan tetapi Dia mengawasi kalian di segala kondisi kalian, maka berbuat baiklah kepadaNya dan cermatilah pengawasanNya dengan selalu melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-laranganNya, karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan kalian itu tidaklah dilalaikan, akan tetapi akan mendapatkan balasannya dengan balasan yang paling sem-purna; bila baik, maka baiklah balasannya, dan bila buruk, maka buruk pulalah balasannya. Allah تعالى kemudian berfirman, ﴾ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيۡكُمۡ حُجَّةٌ ﴿ "Agar tidak ada hujjah (alasan) bagi manusia atas kamu," maksudnya, Kami menetapkan bagi kalian untuk menghadap Ka'bah yang mulia, agar tidak ada bantahan dari ahli Kitab dan kaum musyrikin kepada kalian, karena seandainya kalian masih tetap menghadap ke Baitul Maqdis, niscaya hujjah itu akan terus ada, karena sesungguhnya ahli Kitab mendapatkan dalam kitab mereka bahwa kiblat mereka yang tetap adalah Ka'bah Baitul Haram, sedang kaum musyrikin memandang bahwa di antara kehormatan milik mereka adalah al-Baitul Haram tersebut, dan bahwa dia adalah dari ajaran Nabi Ibrahim عليه السلام. Bila Nabi Muhammad ﷺ tidak berkiblat ke arahnya, niscaya bantahan-bantahan mereka akan tertuju kepada beliau dengan berkata, Bagaimana dia mengaku menganut ajaran Nabi Ibrahim sedangkan dia termasuk keturunannya, namun dia me-ninggalkan menghadap kiblatnya? Oleh karena itu, dengan meng-hadap ke arah kiblat, maka tegaklah hujjah atas ahli kitab dan kaum musyrikin sekaligus serta lenyaplah bantahan mereka atas beliau ﷺ kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Artinya orang yang berhujjah …

Al-Baqara 2:150Listen in Qur'an →

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.