Muslim99Muslim99
← Tafsir library

2. Al-Baqara

The Cow · Medinan · 286 ayahs

سُورَةُ البَقَرَةِ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 121–130 of 286

121

ٱلَّذِينَ ءَاتَيْنَٰهُمُ ٱلْكِتَٰبَ يَتْلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ أُو۟لَٰٓئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِۦ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

"Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Hai Bani Israil, ingat-lah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan takutlah kamu kepada suatu hari yang pada waktu itu seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikit pun dan tidak akan diterima suatu tebusan dari padanya, dan tidak akan bermanfaat suatu syafa'at pun kepadanya, dan tidak (pula) mereka akan ditolong." (Al-Baqarah: 121-123).

(121) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya orang yang telah Dia berikan Kitab dan dikaruniai dengannya karunia yang mutlak, mereka itu ﴾ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ ﴿ "membacanya dengan bacaan yang sebenar-nya," maksudnya mereka mengikutinya dengan sebenar-benar ketaatan. Kata تِلَاوَةٌ (di sini) bermakna mengikuti (اَلْاِتِّبَاعُ). Mereka menghalalkan yang halalnya dan mengharamkan yang haramnya, mereka melaksanakan ayat yang jelas (muhkam) dan beriman kepada ayat yang tidak jelas (mutasyabih). Itulah orang-orang yang bahagia di antara ahli Kitab yang mengetahui nikmat-nikmat Allah dan mereka mensyukurinya, mereka beriman kepada setiap Rasul dan mereka tidak membeda-bedakan salah seorang pun di antara mereka, maka mereka itulah orang-orang yang beriman secara benar, yang bukan dari orang yang berkata, "Kami beriman kepada Taurat yang diturunkan kepada kami namun kami ingkar terhadap al-Qur`an yang datang setelahnya." Oleh karena itu, Allah me-ngancam mereka dalam FirmanNya, ﴾ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."

(122-123) Tafsir ayat telah dijelaskan di atas.

Al-Baqara 2:121Listen in Qur'an →
122

يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّى فَضَّلْتُكُمْ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melabihkan kamu atas segala umat.

"Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Hai Bani Israil, ingat-lah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan takutlah kamu kepada suatu hari yang pada waktu itu seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikit pun dan tidak akan diterima suatu tebusan dari padanya, dan tidak akan bermanfaat suatu syafa'at pun kepadanya, dan tidak (pula) mereka akan ditolong." (Al-Baqarah: 121-123).

(121) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya orang yang telah Dia berikan Kitab dan dikaruniai dengannya karunia yang mutlak, mereka itu ﴾ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ ﴿ "membacanya dengan bacaan yang sebenar-nya," maksudnya mereka mengikutinya dengan sebenar-benar ketaatan. Kata تِلَاوَةٌ (di sini) bermakna mengikuti (اَلْاِتِّبَاعُ). Mereka menghalalkan yang halalnya dan mengharamkan yang haramnya, mereka melaksanakan ayat yang jelas (muhkam) dan beriman kepada ayat yang tidak jelas (mutasyabih). Itulah orang-orang yang bahagia di antara ahli Kitab yang mengetahui nikmat-nikmat Allah dan mereka mensyukurinya, mereka beriman kepada setiap Rasul dan mereka tidak membeda-bedakan salah seorang pun di antara mereka, maka mereka itulah orang-orang yang beriman secara benar, yang bukan dari orang yang berkata, "Kami beriman kepada Taurat yang diturunkan kepada kami namun kami ingkar terhadap al-Qur`an yang datang setelahnya." Oleh karena itu, Allah me-ngancam mereka dalam FirmanNya, ﴾ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."

(122-123) Tafsir ayat telah dijelaskan di atas.

Al-Baqara 2:122Listen in Qur'an →
123

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًۭا لَّا تَجْزِى نَفْسٌ عَن نَّفْسٍۢ شَيْـًۭٔا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌۭ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَٰعَةٌۭ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ

Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.

"Orang-orang yang telah Kami berikan al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Hai Bani Israil, ingat-lah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan takutlah kamu kepada suatu hari yang pada waktu itu seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikit pun dan tidak akan diterima suatu tebusan dari padanya, dan tidak akan bermanfaat suatu syafa'at pun kepadanya, dan tidak (pula) mereka akan ditolong." (Al-Baqarah: 121-123).

(121) Allah تعالى mengabarkan bahwasanya orang yang telah Dia berikan Kitab dan dikaruniai dengannya karunia yang mutlak, mereka itu ﴾ يَتۡلُونَهُۥ حَقَّ تِلَاوَتِهِۦٓ ﴿ "membacanya dengan bacaan yang sebenar-nya," maksudnya mereka mengikutinya dengan sebenar-benar ketaatan. Kata تِلَاوَةٌ (di sini) bermakna mengikuti (اَلْاِتِّبَاعُ). Mereka menghalalkan yang halalnya dan mengharamkan yang haramnya, mereka melaksanakan ayat yang jelas (muhkam) dan beriman kepada ayat yang tidak jelas (mutasyabih). Itulah orang-orang yang bahagia di antara ahli Kitab yang mengetahui nikmat-nikmat Allah dan mereka mensyukurinya, mereka beriman kepada setiap Rasul dan mereka tidak membeda-bedakan salah seorang pun di antara mereka, maka mereka itulah orang-orang yang beriman secara benar, yang bukan dari orang yang berkata, "Kami beriman kepada Taurat yang diturunkan kepada kami namun kami ingkar terhadap al-Qur`an yang datang setelahnya." Oleh karena itu, Allah me-ngancam mereka dalam FirmanNya, ﴾ وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi."

(122-123) Tafsir ayat telah dijelaskan di atas.

Al-Baqara 2:123Listen in Qur'an →
124

۞ وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍۢ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًۭا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan bebe-rapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikan-nya. Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.' Ibrahim berkata, '(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.' Allah berfirman, 'JanjiKu (ini) tidak me-ngenai orang yang zhalim.' Dan (ingatlah), ketika Kami menjadi-kan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim se-bagai tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, 'Bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang thawaf, i'tikaf, rukuk, dan sujud'." (Al-Baqarah: 124-125).

(124) Allah تعالى mengabarkan tentang seorang hamba dan kekasihNya, Nabi Ibrahim عليه السلام -yang telah disepakati kepemim-pinan dan kemuliaannya di mana setiap kelompok dari ahli Kitab mengakuinya dan bahkan juga orang-orang musyrik- bahwasanya Allah تعالى menguji dan mencobanya dengan beberapa kalimat yaitu dengan perintah-perintah dan larangan-larangan sebagaimana telah menjadi kebiasaan Allah dalam menguji hamba-hambaNya, agar pembohong yang tidak tegar dalam ujian dan cobaan jelas berbeda dengan orang yang jujur, yang derajatnya akan meningkat dan martabatnya terangkat, amalnya bertambah dan ikhlas, dan orang yang paling mulia dalam perkara ini adalah al-Khalil Ibrahim عليه السلام, di mana beliau menghadapi ujian Allah bagi beliau, lalu Allah berterima kasih terhadap beliau karena hal tersebut, dan Allah masih saja terus berterima kasih seraya berfirman, ﴾ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Maksudnya, mereka akan mengikutimu dalam petunjuk, dan me-reka berjalan di belakangmu menuju kepada kebahagiaan mereka yang abadi, hingga kamu memperoleh pujian yang abadi, balasan yang sempurna, dan penghormatan dari setiap orang. Hal ini -demi Allah- merupakan derajat paling mulia yang diburu oleh orang-orang yang saling berlomba, dan setinggi-tinggi-nya kedudukan yang mana lengan baju orang yang bekerja keras disingsingkan, sesempurna-sempurnanya keadaan yang diperoleh oleh Ulul 'Azmi dari para Rasul, dan pengikut-pengikut mereka dari kalangan shiddiq mengikuti mereka yang mengajak kepada Allah dan kepada jalanNya. Dan ketika Ibrahim عليه السلامbergembira dengan kedudukan seperti itu, dan memperolehnya, lalu beliau memohon hal itu juga diberikan kepada keturunannya agar dera-jatnya dan derajat keturunannya tinggi, hal ini merupakan kepe-mimpinan beliau dan nasihat beliau kepada hamba-hamba Allah serta kebahagiaannya agar banyak di antara mereka orang-orang yang menjadi penyeru kepada petunjuk, maka hanya bagi Allah-lah keagungan cita-cita yang tinggi dan kedudukan-kedudukan yang mulia ini. Kemudian Allah yang Maha Penyayang lagi Mahalembut mengabulkannya dan Dia mengabarkan tentang penghalang dari memperoleh kedudukan seperti ini dalam FirmanNya,﴾ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "JanjiKu ini tidak mengenai orang-orang yang zhalim," maksud-nya, orang yang menzhalimi diri sendiri (dengan dosa dan kemak-siatan) dan memudaratkannya serta merendahkan kedudukannya tidak memperoleh kepemimpinan dalam agama, karena tidak ada …

Al-Baqara 2:124Listen in Qur'an →
125

وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةًۭ لِّلنَّاسِ وَأَمْنًۭا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّۭى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan bebe-rapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikan-nya. Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.' Ibrahim berkata, '(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.' Allah berfirman, 'JanjiKu (ini) tidak me-ngenai orang yang zhalim.' Dan (ingatlah), ketika Kami menjadi-kan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim se-bagai tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, 'Bersihkanlah rumahKu untuk orang-orang yang thawaf, i'tikaf, rukuk, dan sujud'." (Al-Baqarah: 124-125).

(124) Allah تعالى mengabarkan tentang seorang hamba dan kekasihNya, Nabi Ibrahim عليه السلام -yang telah disepakati kepemim-pinan dan kemuliaannya di mana setiap kelompok dari ahli Kitab mengakuinya dan bahkan juga orang-orang musyrik- bahwasanya Allah تعالى menguji dan mencobanya dengan beberapa kalimat yaitu dengan perintah-perintah dan larangan-larangan sebagaimana telah menjadi kebiasaan Allah dalam menguji hamba-hambaNya, agar pembohong yang tidak tegar dalam ujian dan cobaan jelas berbeda dengan orang yang jujur, yang derajatnya akan meningkat dan martabatnya terangkat, amalnya bertambah dan ikhlas, dan orang yang paling mulia dalam perkara ini adalah al-Khalil Ibrahim عليه السلام, di mana beliau menghadapi ujian Allah bagi beliau, lalu Allah berterima kasih terhadap beliau karena hal tersebut, dan Allah masih saja terus berterima kasih seraya berfirman, ﴾ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ ﴿ "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Maksudnya, mereka akan mengikutimu dalam petunjuk, dan me-reka berjalan di belakangmu menuju kepada kebahagiaan mereka yang abadi, hingga kamu memperoleh pujian yang abadi, balasan yang sempurna, dan penghormatan dari setiap orang. Hal ini -demi Allah- merupakan derajat paling mulia yang diburu oleh orang-orang yang saling berlomba, dan setinggi-tinggi-nya kedudukan yang mana lengan baju orang yang bekerja keras disingsingkan, sesempurna-sempurnanya keadaan yang diperoleh oleh Ulul 'Azmi dari para Rasul, dan pengikut-pengikut mereka dari kalangan shiddiq mengikuti mereka yang mengajak kepada Allah dan kepada jalanNya. Dan ketika Ibrahim عليه السلامbergembira dengan kedudukan seperti itu, dan memperolehnya, lalu beliau memohon hal itu juga diberikan kepada keturunannya agar dera-jatnya dan derajat keturunannya tinggi, hal ini merupakan kepe-mimpinan beliau dan nasihat beliau kepada hamba-hamba Allah serta kebahagiaannya agar banyak di antara mereka orang-orang yang menjadi penyeru kepada petunjuk, maka hanya bagi Allah-lah keagungan cita-cita yang tinggi dan kedudukan-kedudukan yang mulia ini. Kemudian Allah yang Maha Penyayang lagi Mahalembut mengabulkannya dan Dia mengabarkan tentang penghalang dari memperoleh kedudukan seperti ini dalam FirmanNya,﴾ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "JanjiKu ini tidak mengenai orang-orang yang zhalim," maksud-nya, orang yang menzhalimi diri sendiri (dengan dosa dan kemak-siatan) dan memudaratkannya serta merendahkan kedudukannya tidak memperoleh kepemimpinan dalam agama, karena tidak ada …

Al-Baqara 2:125Listen in Qur'an →
126

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًۭا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُۥ قَلِيلًۭا ثُمَّ أَضْطَرُّهُۥٓ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali".

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadi-kanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.' Allah berfirman, 'Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, ke-mudian Aku paksa dia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali'." (Al-Baqarah: 126).

(126) Ketika Nabi Ibrahim عليه السلام berdoa bagi Baitullah agar Allah menjadikannya sebagai negeri yang aman dan Allah mem-berikan rizki berbagai macam buah-buahan kepada penduduknya, kemudian beliau mengkhususkan doa ini hanya bagi orang-orang yang beriman sebagai tindakan kesopanan kepada Allah, di mana doa beliau yang pertama bersifat umum, dan diberi jawaban yang dibatasi dengan selain yang zhalim, dan ketika beliau berdoa agar mereka mendapatkan rizki dan beliau membatasinya hanya bagi orang-orang Mukmin saja, padahal rizki Allah itu menyeluruh kepada orang Mukmin, orang kafir, pelaku kemaksiatan, dan pe-laku ketaatan, maka Allah تعالى berfirman, ﴾ وَمَن كَفَرَ ﴿ "Dan kepada orang yang kafir pun" Aku memberi rizki kepada mereka semuanya, baik Muslim maupun kafir. Adapun yang Muslim, dia akan memper-gunakan rizki itu untuk beribadah kepada Allah, kemudian de-ngannya dia berpindah kepada kenikmatan surga, sedangkan yang kafir, dia akan bersenang-senang padanya sementara, ﴾ ثُمَّ أَضۡطَرُّهُۥٓ ﴿ "kemudian Aku paksa ia," maksudnya, Aku mendorongnya dan me-ngeluarkannya dengan paksa untuk ﴾ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلنَّارِۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Al-Baqara 2:126Listen in Qur'an →
127

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepadamu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami, umat yang tunduk patuh kepadamu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguh-nya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penya-yang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Baqa-rah: 127-129).

(127) Maknanya, ingatlah saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام membangun kembali pondasi-pondasi baitullah dan kesinambungan keduanya terhadap pekerjaan yang agung tersebut, dan bagaimana kondisi mereka berdua dalam rasa kekhawatiran dan pengharapan, hingga mereka berdua berdoa kepada Allah di samping bekerja agar Allah menerima perbuatan mereka berdua dan agar Allah menjadikan padanya manfaat yang luas.

(128) Mereka berdua memohon bagi diri mereka dan keturunan mereka agar berpegang teguh kepada Islam yang pada hakikatnya adalah ketundukan hati dan kepatuhannya kepada Rabbnya yang meliputi ketundukan anggota tubuh, ﴾ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا ﴿ "dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami," maksudnya, ajarilah kami hal-hal itu dalam bentuk pertun-jukan dan demonstrasi agar lebih mantap. Kemungkinan juga maksud dari manasik di sini adalah seluruh kegiatan yang dilaku-kan pada saat ibadah haji sebagaimana yang diisyaratkan oleh konteks ayat. Kemungkinan juga maksudnya adalah suatu hal yang lebih umum dari itu semua, yaitu agama secara keseluruhan dan ibadah secara keseluruhan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh keumuman lafazh ayat, karena kata اَلنُّسُكُ berarti peribadahan. Akan tetapi kata ini lebih cenderung dan lebih sering dipakai pada kegiatan-kegiatan ibadah saat haji. Maka hasil dari doa mereka berdua adalah taufik kepada ilmu dan amal shalih. Ketika seorang hamba itu, bagaimanapun kondisinya, pasti ditimpa oleh kelalaian dan dia butuh kepada taubat, maka mereka berdua pun berkata, ﴾ وَتُبۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

(129) ﴾ رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ ﴿ "Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka," maksudnya kepada keturunan kami ﴾ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "seorang Rasul di antara mereka," agar lebih tinggi derajatnya, agar ditaati dan agar mereka mengenalnya dengan sebaik-baiknya, ﴾ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ ﴿ "yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu" dari sisi lafazhnya, menjaga dan menghafal, ﴾ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "dan mengajarkan ke-pada mereka al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (as-Sunnah)," sebagai makna darinya, ﴾ وَيُزَكِّيهِمۡۖ ﴿ "serta menyucikan mereka," dengan men-didik mereka atas …

Al-Baqara 2:127Listen in Qur'an →
128

رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةًۭ مُّسْلِمَةًۭ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepadamu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami, umat yang tunduk patuh kepadamu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguh-nya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penya-yang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Baqa-rah: 127-129).

(127) Maknanya, ingatlah saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام membangun kembali pondasi-pondasi baitullah dan kesinambungan keduanya terhadap pekerjaan yang agung tersebut, dan bagaimana kondisi mereka berdua dalam rasa kekhawatiran dan pengharapan, hingga mereka berdua berdoa kepada Allah di samping bekerja agar Allah menerima perbuatan mereka berdua dan agar Allah menjadikan padanya manfaat yang luas.

(128) Mereka berdua memohon bagi diri mereka dan keturunan mereka agar berpegang teguh kepada Islam yang pada hakikatnya adalah ketundukan hati dan kepatuhannya kepada Rabbnya yang meliputi ketundukan anggota tubuh, ﴾ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا ﴿ "dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami," maksudnya, ajarilah kami hal-hal itu dalam bentuk pertun-jukan dan demonstrasi agar lebih mantap. Kemungkinan juga maksud dari manasik di sini adalah seluruh kegiatan yang dilaku-kan pada saat ibadah haji sebagaimana yang diisyaratkan oleh konteks ayat. Kemungkinan juga maksudnya adalah suatu hal yang lebih umum dari itu semua, yaitu agama secara keseluruhan dan ibadah secara keseluruhan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh keumuman lafazh ayat, karena kata اَلنُّسُكُ berarti peribadahan. Akan tetapi kata ini lebih cenderung dan lebih sering dipakai pada kegiatan-kegiatan ibadah saat haji. Maka hasil dari doa mereka berdua adalah taufik kepada ilmu dan amal shalih. Ketika seorang hamba itu, bagaimanapun kondisinya, pasti ditimpa oleh kelalaian dan dia butuh kepada taubat, maka mereka berdua pun berkata, ﴾ وَتُبۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

(129) ﴾ رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ ﴿ "Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka," maksudnya kepada keturunan kami ﴾ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "seorang Rasul di antara mereka," agar lebih tinggi derajatnya, agar ditaati dan agar mereka mengenalnya dengan sebaik-baiknya, ﴾ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ ﴿ "yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu" dari sisi lafazhnya, menjaga dan menghafal, ﴾ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "dan mengajarkan ke-pada mereka al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (as-Sunnah)," sebagai makna darinya, ﴾ وَيُزَكِّيهِمۡۖ ﴿ "serta menyucikan mereka," dengan men-didik mereka atas …

Al-Baqara 2:128Listen in Qur'an →
129

رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepadamu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami, umat yang tunduk patuh kepadamu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguh-nya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penya-yang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana'." (Al-Baqa-rah: 127-129).

(127) Maknanya, ingatlah saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام membangun kembali pondasi-pondasi baitullah dan kesinambungan keduanya terhadap pekerjaan yang agung tersebut, dan bagaimana kondisi mereka berdua dalam rasa kekhawatiran dan pengharapan, hingga mereka berdua berdoa kepada Allah di samping bekerja agar Allah menerima perbuatan mereka berdua dan agar Allah menjadikan padanya manfaat yang luas.

(128) Mereka berdua memohon bagi diri mereka dan keturunan mereka agar berpegang teguh kepada Islam yang pada hakikatnya adalah ketundukan hati dan kepatuhannya kepada Rabbnya yang meliputi ketundukan anggota tubuh, ﴾ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا ﴿ "dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami," maksudnya, ajarilah kami hal-hal itu dalam bentuk pertun-jukan dan demonstrasi agar lebih mantap. Kemungkinan juga maksud dari manasik di sini adalah seluruh kegiatan yang dilaku-kan pada saat ibadah haji sebagaimana yang diisyaratkan oleh konteks ayat. Kemungkinan juga maksudnya adalah suatu hal yang lebih umum dari itu semua, yaitu agama secara keseluruhan dan ibadah secara keseluruhan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh keumuman lafazh ayat, karena kata اَلنُّسُكُ berarti peribadahan. Akan tetapi kata ini lebih cenderung dan lebih sering dipakai pada kegiatan-kegiatan ibadah saat haji. Maka hasil dari doa mereka berdua adalah taufik kepada ilmu dan amal shalih. Ketika seorang hamba itu, bagaimanapun kondisinya, pasti ditimpa oleh kelalaian dan dia butuh kepada taubat, maka mereka berdua pun berkata, ﴾ وَتُبۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."

(129) ﴾ رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ ﴿ "Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka," maksudnya kepada keturunan kami ﴾ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ ﴿ "seorang Rasul di antara mereka," agar lebih tinggi derajatnya, agar ditaati dan agar mereka mengenalnya dengan sebaik-baiknya, ﴾ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ ﴿ "yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu" dari sisi lafazhnya, menjaga dan menghafal, ﴾ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "dan mengajarkan ke-pada mereka al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (as-Sunnah)," sebagai makna darinya, ﴾ وَيُزَكِّيهِمۡۖ ﴿ "serta menyucikan mereka," dengan men-didik mereka atas …

Al-Baqara 2:129Listen in Qur'an →
130

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَٰهِۦمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُۥ ۚ وَلَقَدِ ٱصْطَفَيْنَٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

"Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melain-kan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. Ketika Tuhannya ber-firman kepadanya, 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab, 'Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.' Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata), 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.' Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya.' Itu adalah umat yang berlalu, baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggunganjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." (Al-Baqarah: 130-134).

(130) Tidaklah ada orang yang benci ﴾ عَن مِّلَّةِ إِبۡرَٰهِـۧمَ ﴿ "kepada agama Ibrahim," setelah dia mengetahui keutamaannya,﴾ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفۡسَهُۥۚ ﴿ "melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri," maksud-nya, membodohi dan menghinakannya, ridha dengan kehinaan dan menjualnya dengan transaksi yang merugikan, sebagaimana tidak lebih lurus dan tidak lebih sempurna dari orang yang menyu-kai agama Ibrahim. Kemudian Allah mengabarkan tentang kondi-sinya di dunia maupun di akhirat seraya berfirman,﴾ وَلَقَدِ ٱصۡطَفَيۡنَٰهُ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "Dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia," maksudnya Kami mengutamakan dan membimbingnya kepada amalan-amalan yang membuatnya termasuk orang-orang yang terpilih dan isti-mewa, ﴾ وَإِنَّهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan sesungguhnya di akhirat dia benar-benar termasuk orang-orang yang shalih," yakni orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi.

(131) ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ قَالَ ﴿ "Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, 'Tunduk patuhlah'! (Maka) Ibrahim menjawab," sebagai ketundukan kepada Tuhannya, ﴾ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam," dengan ikhlas dan bertauhid, mencintai, dan pasrah. Maka bertauhid kepada Allah adalah sifat beliau, lalu beliau me-wariskannya kepada keturunannya dan mewasiatkannya kepada mereka, dan beliau jadikan tauhid itu sebagai kalimat yang terus ada pada generasi selanjutnya, dan terus diwarisi di antara mereka hingga sampai kepada Ya'qub, lalu beliau juga mewasiatkan hal itu kepada anak-anaknya,

Kalian wahai anak-anak Ya'qub! Bapak moyang kalian telah mewasiatkan kepada kalian secara khusus, maka wajiblah atas kalian tunduk secara sempurna, dan mengikuti penutup para Nabi. Allah berfirman,

(132) ﴾ يَٰبَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ ﴿ "Hai anak-anakku! Sesungguh-nya Allah telah memilih agama ini bagimu." Maksudnya, Allah telah menjadikannya untuk kalian dan memilihnya bagi kalian sebagai kasih sayang dan berlaku baik kepada kalian, maka laksanakanlah, tunaikanlah syariat-syariatnya, hiasilah …

Al-Baqara 2:130Listen in Qur'an →

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.