Muslim99Muslim99
← Tafsir library

12. Yusuf

Joseph · Meccan · 111 ayahs

سُورَةُ يُوسُفَ

Reading Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di

Ayahs 1–10 of 111

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

1

الٓر ۚ تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ

Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).

"Alif, lam, ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewah-yukan al-Qur`an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Yusuf: 1-3).

Makkiyah

(1) Allah تعالى mengabarkan bahwa ayat-ayat al-Qur`an a d a l a h ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata" (dari Allah). Maksudnya ayat yang jelas lagi terang, lafazh dan makna-maknanya.

(2) Di antara aspek kejelasan dan terangnya, Allah menurun-kannya dengan bahasa Arab, bahasa yang paling mulia dan fasih, ia (al-Qur`an) menerangkan segala hal yang dibutuhkan oleh manu-sia yang berupa fakta-fakta yang bermanfaat. Seluruh segi kejelasan dan terangnya al-Qur`an ini tujuannya ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "agar kamu me-mahaminya", supaya kalian memahami batasan-batasan Allah, ma-salah-masalah yang prinsip ataupun cabang-cabangnya, perintah-perintah dan larangan-laranganNya. Apabila kalian sudah mema-haminya dengan dasar keyakinan, dan hati-hati kalian menguasai pengetahuan tentangnya, maka hal itu akan membuahkan amalan anggota tubuh dan ketundukan hati kepadaNya. Dan ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "agar kamu memahaminya", agar akal-akal kalian bertambah matang melalui pengulangan makna-makna yang mulia lagi luhur pada benak-benak kalian. Hingga kalian akan berada dalam perubahan dari suatu kondisi kepada kondisi-kondisi lainnya, yang lebih tinggi dan sempurna.

(3) ﴾ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ ﴿ "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik", ditinjau dari keotentikannya dan pengungkapan-nya yang mengalir dengan halus dan keelokan makna-maknanya ﴾ بِمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ ﴿ "dengan mewahyukan al-Qur`an ini kepadamu", dengan kandungan yang dicakup oleh al-Qur`an yang Kami wahyu-kan kepadamu dan Kami telah memuliakan dirimu di atas segenap para nabi. Ini merupakan anugerah murni dan limpahan kebaikan dari Allah. ﴾ وَإِن كُنتَ مِن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu se-belum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui", engkau tidak tahu apakah al-Kitab itu, dan apakah hakikat keimanan itu, sebelum Allah mewahyukan (wahyu) kepada-mu. Namun Kami menjadikannya sebagai lentera cahaya. Dengan itu, Kami memberi hidayah kepada orang yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Ketika Dia memuji kandungan kisah yang ada pada al-Qur`an, yang merupakan kisah terbaik secara mutlak, maka tidak ada satu kisah pun dalam kitab-kitab (lain) yang sebanding tingkatannya de-ngan kisah al-Qur`an ini, maka Allah mengetengahkan kisah Nabi Yusuf dan ayah serta saudara-saudaranya, yang merupakan sebuah kisah yang menakjubkan. Allah berfirman,

Ketahuilah bahwasanya Allah menyebutkan bahwa Dia men-ceritakan kisah terbaik dalam al-Qur`an kepada RasulNya. Kemu-dian, Dia menyampaikan kisah ini dan memaparkannya disertai uraian peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Sehingga bisa dimengerti bahwa kisah itu merupakan kisah yang sempurna, leng-kap lagi baik. …

2

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّۭا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

"Alif, lam, ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewah-yukan al-Qur`an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Yusuf: 1-3).

Makkiyah

(1) Allah تعالى mengabarkan bahwa ayat-ayat al-Qur`an a d a l a h ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata" (dari Allah). Maksudnya ayat yang jelas lagi terang, lafazh dan makna-maknanya.

(2) Di antara aspek kejelasan dan terangnya, Allah menurun-kannya dengan bahasa Arab, bahasa yang paling mulia dan fasih, ia (al-Qur`an) menerangkan segala hal yang dibutuhkan oleh manu-sia yang berupa fakta-fakta yang bermanfaat. Seluruh segi kejelasan dan terangnya al-Qur`an ini tujuannya ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "agar kamu me-mahaminya", supaya kalian memahami batasan-batasan Allah, ma-salah-masalah yang prinsip ataupun cabang-cabangnya, perintah-perintah dan larangan-laranganNya. Apabila kalian sudah mema-haminya dengan dasar keyakinan, dan hati-hati kalian menguasai pengetahuan tentangnya, maka hal itu akan membuahkan amalan anggota tubuh dan ketundukan hati kepadaNya. Dan ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "agar kamu memahaminya", agar akal-akal kalian bertambah matang melalui pengulangan makna-makna yang mulia lagi luhur pada benak-benak kalian. Hingga kalian akan berada dalam perubahan dari suatu kondisi kepada kondisi-kondisi lainnya, yang lebih tinggi dan sempurna.

(3) ﴾ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ ﴿ "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik", ditinjau dari keotentikannya dan pengungkapan-nya yang mengalir dengan halus dan keelokan makna-maknanya ﴾ بِمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ ﴿ "dengan mewahyukan al-Qur`an ini kepadamu", dengan kandungan yang dicakup oleh al-Qur`an yang Kami wahyu-kan kepadamu dan Kami telah memuliakan dirimu di atas segenap para nabi. Ini merupakan anugerah murni dan limpahan kebaikan dari Allah. ﴾ وَإِن كُنتَ مِن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu se-belum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui", engkau tidak tahu apakah al-Kitab itu, dan apakah hakikat keimanan itu, sebelum Allah mewahyukan (wahyu) kepada-mu. Namun Kami menjadikannya sebagai lentera cahaya. Dengan itu, Kami memberi hidayah kepada orang yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Ketika Dia memuji kandungan kisah yang ada pada al-Qur`an, yang merupakan kisah terbaik secara mutlak, maka tidak ada satu kisah pun dalam kitab-kitab (lain) yang sebanding tingkatannya de-ngan kisah al-Qur`an ini, maka Allah mengetengahkan kisah Nabi Yusuf dan ayah serta saudara-saudaranya, yang merupakan sebuah kisah yang menakjubkan. Allah berfirman,

Ketahuilah bahwasanya Allah menyebutkan bahwa Dia men-ceritakan kisah terbaik dalam al-Qur`an kepada RasulNya. Kemu-dian, Dia menyampaikan kisah ini dan memaparkannya disertai uraian peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Sehingga bisa dimengerti bahwa kisah itu merupakan kisah yang sempurna, leng-kap lagi baik. …

3

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ ٱلْقَصَصِ بِمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلْغَٰفِلِينَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

"Alif, lam, ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewah-yukan al-Qur`an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (Yusuf: 1-3).

Makkiyah

(1) Allah تعالى mengabarkan bahwa ayat-ayat al-Qur`an a d a l a h ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ ﴿ "ayat-ayat Kitab (al-Qur`an) yang nyata" (dari Allah). Maksudnya ayat yang jelas lagi terang, lafazh dan makna-maknanya.

(2) Di antara aspek kejelasan dan terangnya, Allah menurun-kannya dengan bahasa Arab, bahasa yang paling mulia dan fasih, ia (al-Qur`an) menerangkan segala hal yang dibutuhkan oleh manu-sia yang berupa fakta-fakta yang bermanfaat. Seluruh segi kejelasan dan terangnya al-Qur`an ini tujuannya ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "agar kamu me-mahaminya", supaya kalian memahami batasan-batasan Allah, ma-salah-masalah yang prinsip ataupun cabang-cabangnya, perintah-perintah dan larangan-laranganNya. Apabila kalian sudah mema-haminya dengan dasar keyakinan, dan hati-hati kalian menguasai pengetahuan tentangnya, maka hal itu akan membuahkan amalan anggota tubuh dan ketundukan hati kepadaNya. Dan ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "agar kamu memahaminya", agar akal-akal kalian bertambah matang melalui pengulangan makna-makna yang mulia lagi luhur pada benak-benak kalian. Hingga kalian akan berada dalam perubahan dari suatu kondisi kepada kondisi-kondisi lainnya, yang lebih tinggi dan sempurna.

(3) ﴾ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ ﴿ "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik", ditinjau dari keotentikannya dan pengungkapan-nya yang mengalir dengan halus dan keelokan makna-maknanya ﴾ بِمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ ﴿ "dengan mewahyukan al-Qur`an ini kepadamu", dengan kandungan yang dicakup oleh al-Qur`an yang Kami wahyu-kan kepadamu dan Kami telah memuliakan dirimu di atas segenap para nabi. Ini merupakan anugerah murni dan limpahan kebaikan dari Allah. ﴾ وَإِن كُنتَ مِن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu se-belum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui", engkau tidak tahu apakah al-Kitab itu, dan apakah hakikat keimanan itu, sebelum Allah mewahyukan (wahyu) kepada-mu. Namun Kami menjadikannya sebagai lentera cahaya. Dengan itu, Kami memberi hidayah kepada orang yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Ketika Dia memuji kandungan kisah yang ada pada al-Qur`an, yang merupakan kisah terbaik secara mutlak, maka tidak ada satu kisah pun dalam kitab-kitab (lain) yang sebanding tingkatannya de-ngan kisah al-Qur`an ini, maka Allah mengetengahkan kisah Nabi Yusuf dan ayah serta saudara-saudaranya, yang merupakan sebuah kisah yang menakjubkan. Allah berfirman,

Ketahuilah bahwasanya Allah menyebutkan bahwa Dia men-ceritakan kisah terbaik dalam al-Qur`an kepada RasulNya. Kemu-dian, Dia menyampaikan kisah ini dan memaparkannya disertai uraian peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Sehingga bisa dimengerti bahwa kisah itu merupakan kisah yang sempurna, leng-kap lagi baik. …

4

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًۭا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku".

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku melihat semuanya sujud kepadaku.' Ayah-nya berkata, 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan Dia mengajarkan kepadamu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan Dia menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbmu Maha Me-ngetahui lagi Mahabijaksana'." (Yusuf: 4-6).

(4) Firman Allah تعالى, ﴾ إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ ﴿ "(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya", Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil k, ﴾ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ ﴿ "Wahai ayahku, sesung-guhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku melihat semuanya sujud kepadaku", mimpi inilah yang menjadi permulaan ketinggian martabat yang direngkuh Nabi Yusuf di du-nia dan akhirat. Demikianlah, jika Allah menghendaki sesuatu yang luar biasa, maka Dia akan memberikan peristiwa pendahuluan sebagai sinyal pembuka dan untuk memuluskan prosesnya, serta sebagai tindakan antisipasi terhadap kesulitan-kesulitan yang akan menghadang hambaNya itu serta sebagai bentuk kelembutan dan kebaikan Allah padanya. Ya'qub menakwilkannya dengan penjela-san bahwa matahari adalah ibunya, bulan berarti ayahnya. Sedang-kan bintang-bintang merupakan (cerminan) saudara-saudaranya. Berbagai fase kehidupan akan melewatinya, hingga berujung pada momentum saudara-saudaranya tunduk dan bersujud kepadanya, sebagai cerminan penghormatan dan pengagungan kepadanya. Peristiwa itu tidaklah terjadi melainkan dengan beberapa faktor pendahulu, berupa ketentuan seleksi dan pilihan dari Allah yang jatuh padanya (untuk menjadi Nabi), penyempurnaan nikmatNya baginya dengan ilmu, amal dan kekuasaan di dunia. Karunia itu akan menaungi semua anggota keluarga Ya'qub yang nantinya akan bersujud kepadanya dan menjadi pengikutnya.

(6) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ ﴿ "Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi)", maksudnya, menyeleksi dan memilihmu atas dasar sifat-sifat luhur dan perangai bagus yang Allah anugerahkan kepadamu. ﴾ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ ﴿ "Dan Dia mengajarkan kepadamu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi", berupa kemampuan menakwilkan mimpi dan penjelasan tentang kesuda-han di balik berita-berita yang benar seperti kitab-kitab samawi dan lainnya. ﴾ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ ﴿ "Dan Dia menyempurnakan nikmatNya kepa-damu", di dunia dan akhirat dengan memberikan karunia kebaikan padamu di dunia dan karunia kebaikan di akhirat,﴾ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيۡكَ مِن قَبۡلُ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "sebagaimana dulu Allah menyempurnakannya (kenikmatan) kepada dua orang ayahmu, Ibrahim dan Ishaq", di mana Allah membe-rikan kenikmatan bagi mereka berdua …

5

قَالَ يَٰبُنَىَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلَىٰٓ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا۟ لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ

Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia".

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku melihat semuanya sujud kepadaku.' Ayah-nya berkata, 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan Dia mengajarkan kepadamu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan Dia menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbmu Maha Me-ngetahui lagi Mahabijaksana'." (Yusuf: 4-6).

(4) Firman Allah تعالى, ﴾ إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ ﴿ "(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya", Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil k, ﴾ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ ﴿ "Wahai ayahku, sesung-guhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku melihat semuanya sujud kepadaku", mimpi inilah yang menjadi permulaan ketinggian martabat yang direngkuh Nabi Yusuf di du-nia dan akhirat. Demikianlah, jika Allah menghendaki sesuatu yang luar biasa, maka Dia akan memberikan peristiwa pendahuluan sebagai sinyal pembuka dan untuk memuluskan prosesnya, serta sebagai tindakan antisipasi terhadap kesulitan-kesulitan yang akan menghadang hambaNya itu serta sebagai bentuk kelembutan dan kebaikan Allah padanya. Ya'qub menakwilkannya dengan penjela-san bahwa matahari adalah ibunya, bulan berarti ayahnya. Sedang-kan bintang-bintang merupakan (cerminan) saudara-saudaranya. Berbagai fase kehidupan akan melewatinya, hingga berujung pada momentum saudara-saudaranya tunduk dan bersujud kepadanya, sebagai cerminan penghormatan dan pengagungan kepadanya. Peristiwa itu tidaklah terjadi melainkan dengan beberapa faktor pendahulu, berupa ketentuan seleksi dan pilihan dari Allah yang jatuh padanya (untuk menjadi Nabi), penyempurnaan nikmatNya baginya dengan ilmu, amal dan kekuasaan di dunia. Karunia itu akan menaungi semua anggota keluarga Ya'qub yang nantinya akan bersujud kepadanya dan menjadi pengikutnya.

(6) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ ﴿ "Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi)", maksudnya, menyeleksi dan memilihmu atas dasar sifat-sifat luhur dan perangai bagus yang Allah anugerahkan kepadamu. ﴾ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ ﴿ "Dan Dia mengajarkan kepadamu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi", berupa kemampuan menakwilkan mimpi dan penjelasan tentang kesuda-han di balik berita-berita yang benar seperti kitab-kitab samawi dan lainnya. ﴾ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ ﴿ "Dan Dia menyempurnakan nikmatNya kepa-damu", di dunia dan akhirat dengan memberikan karunia kebaikan padamu di dunia dan karunia kebaikan di akhirat,﴾ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيۡكَ مِن قَبۡلُ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "sebagaimana dulu Allah menyempurnakannya (kenikmatan) kepada dua orang ayahmu, Ibrahim dan Ishaq", di mana Allah membe-rikan kenikmatan bagi mereka berdua …

6

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكَ وَعَلَىٰٓ ءَالِ يَعْقُوبَ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْحَٰقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌۭ

Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku melihat semuanya sujud kepadaku.' Ayah-nya berkata, 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, sehingga mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan Dia mengajarkan kepadamu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan Dia menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbmu Maha Me-ngetahui lagi Mahabijaksana'." (Yusuf: 4-6).

(4) Firman Allah تعالى, ﴾ إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ ﴿ "(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya", Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil k, ﴾ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ ﴿ "Wahai ayahku, sesung-guhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku melihat semuanya sujud kepadaku", mimpi inilah yang menjadi permulaan ketinggian martabat yang direngkuh Nabi Yusuf di du-nia dan akhirat. Demikianlah, jika Allah menghendaki sesuatu yang luar biasa, maka Dia akan memberikan peristiwa pendahuluan sebagai sinyal pembuka dan untuk memuluskan prosesnya, serta sebagai tindakan antisipasi terhadap kesulitan-kesulitan yang akan menghadang hambaNya itu serta sebagai bentuk kelembutan dan kebaikan Allah padanya. Ya'qub menakwilkannya dengan penjela-san bahwa matahari adalah ibunya, bulan berarti ayahnya. Sedang-kan bintang-bintang merupakan (cerminan) saudara-saudaranya. Berbagai fase kehidupan akan melewatinya, hingga berujung pada momentum saudara-saudaranya tunduk dan bersujud kepadanya, sebagai cerminan penghormatan dan pengagungan kepadanya. Peristiwa itu tidaklah terjadi melainkan dengan beberapa faktor pendahulu, berupa ketentuan seleksi dan pilihan dari Allah yang jatuh padanya (untuk menjadi Nabi), penyempurnaan nikmatNya baginya dengan ilmu, amal dan kekuasaan di dunia. Karunia itu akan menaungi semua anggota keluarga Ya'qub yang nantinya akan bersujud kepadanya dan menjadi pengikutnya.

(6) Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَكَذَٰلِكَ يَجۡتَبِيكَ رَبُّكَ ﴿ "Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi)", maksudnya, menyeleksi dan memilihmu atas dasar sifat-sifat luhur dan perangai bagus yang Allah anugerahkan kepadamu. ﴾ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأۡوِيلِ ٱلۡأَحَادِيثِ ﴿ "Dan Dia mengajarkan kepadamu sebagian dari ta'bir mimpi-mimpi", berupa kemampuan menakwilkan mimpi dan penjelasan tentang kesuda-han di balik berita-berita yang benar seperti kitab-kitab samawi dan lainnya. ﴾ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ ﴿ "Dan Dia menyempurnakan nikmatNya kepa-damu", di dunia dan akhirat dengan memberikan karunia kebaikan padamu di dunia dan karunia kebaikan di akhirat,﴾ كَمَآ أَتَمَّهَا عَلَىٰٓ أَبَوَيۡكَ مِن قَبۡلُ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَۚ ﴿ "sebagaimana dulu Allah menyempurnakannya (kenikmatan) kepada dua orang ayahmu, Ibrahim dan Ishaq", di mana Allah membe-rikan kenikmatan bagi mereka berdua …

7

۞ لَّقَدْ كَانَ فِى يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٌۭ لِّلسَّآئِلِينَ

Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata, 'Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita da-ripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bu-nuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) niscaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik'." (Yusuf: 7-9).

(7) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ ﴿ "Sesungguh-nya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya", maksudnya ada beberapa pelajaran dan bukti atas banyak tuntutan hidup, ﴾ لِّلسَّآئِلِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang berta-nya", bagi orang-orang yang menanyakan tentangnya baik melalui tindak-tanduknya yang terbaca maksudnya ataupun melalui bahasa verbal. Orang-orang yang bertanyalah yang akan mendulang man-faat dari ayat-ayat dan pelajaran-pelajaran itu. Sementara orang-orang yang memalingkan diri darinya, maka mereka tidak bisa mengais manfaat dari ayat-ayat dan kisah-kisah serta keterangan-keterangan yang ada.

(8) ﴾ إِذۡ قَالُواْ ﴿ "(Yaitu) ketika mereka berkata", mereka saling berbicara di antara mereka, ﴾ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ ﴿ "Sesungguhnya Yusuf dan saudara (kandungnya)", Bunyamin, yaitu saudara kandungnya. Kalau tidak demikian, maka mereka semua adalah bersaudara.﴾ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ ﴿ "Lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat)", padahal kita adalah satu kelompok (yang kuat). Kenapa ayah lebih mengutamakan mereka berdua atas kita ini dalam cinta dan kasih sayang? ﴾ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata", beliau berada dalam kesalahan yang jelas, di mana dia lebih mengutamakan me-reka berdua dibandingkan kami, tanpa alasan logis yang dapat kita lihat dan latar belakang yang bisa kita saksikan.

(9) ﴾ ٱقۡتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ ٱطۡرَحُوهُ أَرۡضٗا ﴿ "Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal)." Sembunyikan dia dari (jangkauan) ayahnya di daerah yang jauh, yang tidak mungkin terlihat olehnya di tempat itu. Apabila kalian melaksanakan salah satu dari dua ren-cana ini ﴾ يَخۡلُ لَكُمۡ وَجۡهُ أَبِيكُمۡ ﴿ "niscaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja" tentulah beliau akan mengarahkan konsentrasinya kepada ka-lian dan memberikan perhatian kepada kalian dengan penuh kasih dan cinta. Karena hatinya sedang sibuk dengan Yusuf dengan kesi-bukan yang mengakibatkan beliau tidak meluangkan diri untuk kalian. ﴾ وَتَكُونُواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ ﴿ "Dan sesudah itu hendaknya kalian menjadi", se-sudah perbuatan itu, kalian hendaknya menjadi orang-orang yang shalih, yakni bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan ke-padaNya setelah kalian melakukan perbuatan dosa kalian. Maka, berniatlah untuk mencanangkan taubat sebelum terjadinya perbuat-an dosa untuk memudahkan pelaksanaannya dan menghilangkan unsur keburukannya serta supaya bisa saling memberikan …

8

إِذْ قَالُوا۟ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِى ضَلَٰلٍۢ مُّبِينٍ

(Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata, 'Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita da-ripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bu-nuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) niscaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik'." (Yusuf: 7-9).

(7) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ ﴿ "Sesungguh-nya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya", maksudnya ada beberapa pelajaran dan bukti atas banyak tuntutan hidup, ﴾ لِّلسَّآئِلِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang berta-nya", bagi orang-orang yang menanyakan tentangnya baik melalui tindak-tanduknya yang terbaca maksudnya ataupun melalui bahasa verbal. Orang-orang yang bertanyalah yang akan mendulang man-faat dari ayat-ayat dan pelajaran-pelajaran itu. Sementara orang-orang yang memalingkan diri darinya, maka mereka tidak bisa mengais manfaat dari ayat-ayat dan kisah-kisah serta keterangan-keterangan yang ada.

(8) ﴾ إِذۡ قَالُواْ ﴿ "(Yaitu) ketika mereka berkata", mereka saling berbicara di antara mereka, ﴾ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ ﴿ "Sesungguhnya Yusuf dan saudara (kandungnya)", Bunyamin, yaitu saudara kandungnya. Kalau tidak demikian, maka mereka semua adalah bersaudara.﴾ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ ﴿ "Lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat)", padahal kita adalah satu kelompok (yang kuat). Kenapa ayah lebih mengutamakan mereka berdua atas kita ini dalam cinta dan kasih sayang? ﴾ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata", beliau berada dalam kesalahan yang jelas, di mana dia lebih mengutamakan me-reka berdua dibandingkan kami, tanpa alasan logis yang dapat kita lihat dan latar belakang yang bisa kita saksikan.

(9) ﴾ ٱقۡتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ ٱطۡرَحُوهُ أَرۡضٗا ﴿ "Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal)." Sembunyikan dia dari (jangkauan) ayahnya di daerah yang jauh, yang tidak mungkin terlihat olehnya di tempat itu. Apabila kalian melaksanakan salah satu dari dua ren-cana ini ﴾ يَخۡلُ لَكُمۡ وَجۡهُ أَبِيكُمۡ ﴿ "niscaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja" tentulah beliau akan mengarahkan konsentrasinya kepada ka-lian dan memberikan perhatian kepada kalian dengan penuh kasih dan cinta. Karena hatinya sedang sibuk dengan Yusuf dengan kesi-bukan yang mengakibatkan beliau tidak meluangkan diri untuk kalian. ﴾ وَتَكُونُواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ ﴿ "Dan sesudah itu hendaknya kalian menjadi", se-sudah perbuatan itu, kalian hendaknya menjadi orang-orang yang shalih, yakni bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan ke-padaNya setelah kalian melakukan perbuatan dosa kalian. Maka, berniatlah untuk mencanangkan taubat sebelum terjadinya perbuat-an dosa untuk memudahkan pelaksanaannya dan menghilangkan unsur keburukannya serta supaya bisa saling memberikan …

9

ٱقْتُلُوا۟ يُوسُفَ أَوِ ٱطْرَحُوهُ أَرْضًۭا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا۟ مِنۢ بَعْدِهِۦ قَوْمًۭا صَٰلِحِينَ

Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik".

"Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Yaitu) ketika mereka berkata, 'Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita da-ripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata. Bu-nuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) niscaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik'." (Yusuf: 7-9).

(7) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخۡوَتِهِۦٓ ءَايَٰتٞ ﴿ "Sesungguh-nya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya", maksudnya ada beberapa pelajaran dan bukti atas banyak tuntutan hidup, ﴾ لِّلسَّآئِلِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang berta-nya", bagi orang-orang yang menanyakan tentangnya baik melalui tindak-tanduknya yang terbaca maksudnya ataupun melalui bahasa verbal. Orang-orang yang bertanyalah yang akan mendulang man-faat dari ayat-ayat dan pelajaran-pelajaran itu. Sementara orang-orang yang memalingkan diri darinya, maka mereka tidak bisa mengais manfaat dari ayat-ayat dan kisah-kisah serta keterangan-keterangan yang ada.

(8) ﴾ إِذۡ قَالُواْ ﴿ "(Yaitu) ketika mereka berkata", mereka saling berbicara di antara mereka, ﴾ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ ﴿ "Sesungguhnya Yusuf dan saudara (kandungnya)", Bunyamin, yaitu saudara kandungnya. Kalau tidak demikian, maka mereka semua adalah bersaudara.﴾ أَحَبُّ إِلَىٰٓ أَبِينَا مِنَّا وَنَحۡنُ عُصۡبَةٌ ﴿ "Lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat)", padahal kita adalah satu kelompok (yang kuat). Kenapa ayah lebih mengutamakan mereka berdua atas kita ini dalam cinta dan kasih sayang? ﴾ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata", beliau berada dalam kesalahan yang jelas, di mana dia lebih mengutamakan me-reka berdua dibandingkan kami, tanpa alasan logis yang dapat kita lihat dan latar belakang yang bisa kita saksikan.

(9) ﴾ ٱقۡتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ ٱطۡرَحُوهُ أَرۡضٗا ﴿ "Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal)." Sembunyikan dia dari (jangkauan) ayahnya di daerah yang jauh, yang tidak mungkin terlihat olehnya di tempat itu. Apabila kalian melaksanakan salah satu dari dua ren-cana ini ﴾ يَخۡلُ لَكُمۡ وَجۡهُ أَبِيكُمۡ ﴿ "niscaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja" tentulah beliau akan mengarahkan konsentrasinya kepada ka-lian dan memberikan perhatian kepada kalian dengan penuh kasih dan cinta. Karena hatinya sedang sibuk dengan Yusuf dengan kesi-bukan yang mengakibatkan beliau tidak meluangkan diri untuk kalian. ﴾ وَتَكُونُواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ ﴿ "Dan sesudah itu hendaknya kalian menjadi", se-sudah perbuatan itu, kalian hendaknya menjadi orang-orang yang shalih, yakni bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan ke-padaNya setelah kalian melakukan perbuatan dosa kalian. Maka, berniatlah untuk mencanangkan taubat sebelum terjadinya perbuat-an dosa untuk memudahkan pelaksanaannya dan menghilangkan unsur keburukannya serta supaya bisa saling memberikan …

10

قَالَ قَآئِلٌۭ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا۟ يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِى غَيَٰبَتِ ٱلْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ ٱلسَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ

Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat".

"Seorang di antara mereka berkata, 'Janganlah kalian mem-bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat'." (Yusuf: 10).

(10) ﴾ قَالَ قَآئِلٞ ﴿ "Seorang di antara mereka berkata." Salah seorang saudara Yusuf yang ingin membunuh atau mengasingkannya ber-kata, ﴾ لَا تَقۡتُلُواْ يُوسُفَ ﴿ "Janganlah kalian membunuh Yusuf, " karena pem-bunuhan terhadap dirinya merupakan dosa yang besar dan tindakan yang sangat keji. Sedangkan tujuannya bisa terlaksana dengan men-jauhkan keberadaan Yusuf dari ayahnya tanpa harus membunuh. Usahakan untuk menjauhkannya dengan menceburkannya ﴾ فِي غَيَٰبَتِ ٱلۡجُبِّ ﴿ "di dasar sumur", dan mengancamnya agar tidak memberitahu-kan tentang apa yang mereka lakukan. Tapi (hendaknya mengaku sebagai) budak yang dimiliki seseorang yang melarikan diri (dari kalian) agar (dinyatakan sebagai) anak temuan ﴾ بَعۡضُ ٱلسَّيَّارَةِ ﴿ "oleh beberapa orang musafir", oleh sebagian kafilah yang akan menempuh perjalanan ke tempat yang jauh lalu mereka memeliharanya. Orang yang mengatakan rencana ini adalah orang yang paling bagus ga-gasannya, dan paling bagus hatinya dan paling bertakwa dalam konteks ini. Sebab sebagian kejelekan itu lebih ringan dibanding-kan jenis kejelekan lainnya, dan bahaya yang ringan bisa dijadikan alat untuk menepis bahaya yang lebih berat. Tatkala mereka telah menyetujui pendapat ini, maka:

Commentary: Tafsir As-Sa'di by 'Abd al-Rahman al-Sa'di. Qur'an text and translation via AlQuran Cloud.